Month: November 2025

  • PPKKI – PT RPN Terima Kunjungan Kerja Bupati Berau Penandatanganan MoU Pengembangan Kakao Daerah di Kalimantan Timur

    Jember, 28 Oktober 2025, Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (PPKKI), PT Riset Perkebunan Nusanatara, menerima kunjungan kerja Pemerintah Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur, dalam rangka penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) terkait pengembangan komoditas kakao di wilayah tersebut.


    Kunjungan kerja tersebut dipimpin oleh Bupati Berau, Hj. Sri Juniarsih Mas, M.Pd, beserta jajaran perangkat daerah, kepala dinas terkait, camat, serta perwakilan perusahaan swasta yang bergerak di bidang kakao. Rombongan diterima oleh Dini Astika Sari, M.Biotech, Kepala PPKKI, bersama jajaran pimpinan PPKKI.

    Penandatanganan MoU ini menjadi langkah strategis untuk mendorong penguatan sektor kakao daerah melalui penerapan hasil riset, peningkatan kapasitas petani, dan pengembangan rantai nilai kakao berkelanjutan.

    Selain Penandatanganan MoU, rombongan meninjau fasilitas PPKKI, antara lain: kebun produksi Kaliwining, CocoPark eduwisata berbasis IPTEK, workshop alat pascapanen, unit pengolahan hilir, dan Outlet Kopi dan Kakao yang menampilkan inovasi produk kopi dan cokelat.

    PPKKI terus menghadirkan teknologi inovatif yang telah diadopsi pemerintah daerah untuk memperkuat ekonomi perkebunan kopi dan kakao. Kolaborasi dengan Pemkab Berau diharapkan memperkuat sinergi antara pemerintah, lembaga riset, dan industri, menuju kakao Indonesia yang unggul, kompetitif, dan berkelanjutan.

    Puslitkoka Hadir untuk Indonesia

    Keterangan Lebih Lanjut:
    Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia
    PT Riset Perkebunan Nusantara
    Ponsel: (0331) 757130, 757132
    Email: iccri@iccri.net

  • PT RPN Inkubasi 28 Produk Perkebunan Unggulan 2023–2025: Siap Dorong Hilirisasi dan Daya Saing Nasional

    Bogor, 28 Oktober 2025 – PT Riset Perkebunan Nusantara (RPN), anak perusahaan Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero), menegaskan komitmennya untuk memperkuat perannya dalam mendorong hilirisasi komoditas perkebunan nasional. Melalui konferensi pers yang digelar di Kantor Direksi PT RPN, Bogor Selasa (28/10), RPN mengumumkan keberhasilan mengembangkan 28 produk riset unggulan sepanjang 2023–2025 yang siap menuju tahap komersialisasi.


    Direktur PT RPN, Dr. Iman Yani Harahap, menjelaskan bahwa inovasi terbagi dalam enam kategori utama. Pemuliaan dan bioteknologi tanaman mendominasi dengan 15 produk, termasuk klon unggul kelapa sawit Nusaklon 1 dan 2, varietas tebu PS 08, klon kakao Monika 01 dan 02, serta klon karet IRR 309 dan IRR 310.


    Tak hanya itu, RPN juga mencetak inovasi di bidang mekanisasi dan otomasi dengan produk Digiteks dan Digimost; pangan dan energi seperti minyak makan merah dan specialty tea Gambung; lingkungan dan dekarbonisasi dengan Vulkasol dan Lead Rubber Bearing; serta aplikasi digital berbasis teknologi, termasuk e-Hara, Nusaklim, dan OPA (Oil Palm Assistant).

    “Capaian ini membuktikan bahwa riset perkebunan Indonesia tidak berhenti di laboratorium, tetapi diarahkan agar mampu memberi nilai tambah dan meningkatkan daya saing di pasar global,” tegas Iman.


    Lebih lanjut, Iman mengungkapkan bahwa RPN saat ini juga tengah mengembangkan produk baru, antara lain Biodiesel B50, Palm Vision, Rubber Seal, dan Rubber Flooring. Sepanjang 2021–2025, perusahaan telah mengantongi 103 Hak Kekayaan Intelektual (HAKI), mulai dari paten, merek dagang, hingga perlindungan varietas tanaman.


    Sebagai lembaga riset hasil transformasi Lembaga Riset Perkebunan Indonesia (LRPI), RPN menjalankan fungsi riset, pengembangan, dan layanan untuk mendukung industri perkebunan nasional, yang mengelola lima Pusat Penelitian dengan komoditas utama yaitu kelapa sawit, karet, teh dan kina, gula, kopi dan kakao serta didukung oleh 4.068 karyawan, termasuk 274 peneliti aktif.

    Selain menghasilkan produk inovatif, RPN juga turut berkontribusi dalam penyusunan kebijakan nasional. Sejak 2020-2025, RPN telah menerbitkan 31 naskah akademik yang mencakup tema hilirisasi perkebunan, ekonomi sirkular, hingga pembentukan Badan Pengelola Dana Komoditas Non-Sawit.

    PT RPN juga melayani berbagai segmen mitra, mulai dari PTPN Group, petani, swasta, hingga pemerintah. Layanan yang ditawarkan meliputi produk benih unggul dan pupuk, perusahaan juga menyediakan jasa sertifikasi ISPO, pengujian laboratorium terakreditasi KAN, serta pelatihan dan capacity building.
    Program hilirisasi perkebunan merupakan agenda strategis nasional untuk meningkatkan nilai tambah dan mengurangi ketergantungan pada ekspor bahan mentah. PT RPN turut mengambil peran dalam riset terapan dari hulu hingga hilir, untuk memastikan Indonesia unggul dalam industri perkebunan global.

    “Sebagai bagian dari ekosistem PTPN Group, RPN terus menegaskan posisinya sebagai pusat keunggulan perkebunan Indonesia. Inovasi riset, penyediaan benih unggul, dan kajian kebijakan yang kami lakukan diharapkan mampu mendongkrak kesejahteraan petani sekaligus memperkuat daya saing industri,” tutup Iman.

    Keterangan Lebih Lanjut:
    Divisi Sekretariat Perusahaan
    PT Riset Perkebunan Nusantara
    Ponsel: 0811-1380-3523
    Email: rpn@rpn.co.id

  • PT RPN Gelar Outlook Perkebunan 2026: Antisipasi Tantangan Global dan Dorong Hilirisasi Komoditas

    Bogor, 28 Oktober 2025 – PT Riset Perkebunan Nusantara (RPN) menggelar Outlook Komoditas Perkebunan 2026 di Aula PT RPN Bogor secara hybrid. Acara tahunan ini menjadi forum penting untuk memetakan tren produksi, harga, serta tantangan dan peluang sektor perkebunan Indonesia di tahun mendatang.
    Direktur PT RPN, Iman Yani Harahap, dalam sambutannya menekankan peran strategis perkebunan sebagai sumber devisa, penyerap tenaga kerja, dan penggerak ekonomi pedesaan.


    “Meski menjadi tulang punggung ekonomi, sektor ini masih menghadapi tantangan serius seperti perubahan iklim, fluktuasi harga, produktivitas yang belum optimal, dan tuntutan keberlanjutan dari pasar global,” ujarnya.

    Ia menambahkan, forum ini juga menjadi wadah kolaborasi bagi pemerintah, pelaku usaha, peneliti, dan masyarakat untuk merumuskan strategi bisnis yang adaptif dan berkelanjutan.


    Acara dihadiri perwakilan Kementerian, lembaga riset, perusahaan perkebunan negara dan swasta, perguruan tinggi, serta Forum Wartawan Pertanian, yang menunjukkan sinergi lintas sektor untuk kemajuan industri perkebunan nasional.


    Direktur Bisnis Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero), Ryanto Wisnuardhy, menekankan pentingnya keterlibatan seluruh pemangku kepentingan dari hulu hingga hilir.

    “Kalau semua stakeholder terlibat sejak hulu hingga hilir, sinergi ini bisa memperkuat ekonomi nasional,” tegas Ryanto, yang optimistis industri perkebunan tetap menjadi motor pertumbuhan ekonomi Indonesia.


    Sesi outlook menghadirkan lima narasumber yang merupakan peneliti dari Pusat Penelitian Lingkup PT RPN dengan komoditas utama: kelapa sawit, karet, teh dan kina, gula, serta kopi dan kakao. Tungkot Sipayung dari PASPI bertindak sebagai moderator sekaligus membuka diskusi tentang risiko global sektor perkebunan 2026. Fokus utama outlook tahun ini adalah peningkatan produktivitas melalui peremajaan tanaman dan benih unggul, penguatan hilirisasi untuk menambah nilai, serta penerapan prinsip keberlanjutan agar produk Indonesia makin diterima pasar global.

    Kelapa Sawit: Tantangan Tata Kelola dan Arah Perbaikan
    Indonesia sebagai produsen kelapa sawit terbesar dunia menghadapi tantangan dalam tata kelola lahan dan industri. Peneliti Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS), Rizki Amalia, menyebut isu utama meliputi legalitas lahan, penyelesaian sawit di kawasan hutan, dan penerapan standar keberlanjutan.
    Meski begitu, outlook sawit 2026 tetap positif. Produksi dan harga diperkirakan stabil, didorong program biodiesel B40 dan pemulihan ekonomi negara importir. Empat strategi utama yang direkomendasikan PPKS mencakup peningkatan produktivitas, diversifikasi pasar dan hilirisasi, perbaikan tata kelola berkelanjutan, serta efisiensi biaya untuk memperkuat daya saing.

    Karet: Produktivitas Turun, Pabrik Tutup
    Peneliti Pusat Penelitian Karet (PPK), Lina Fatayati Syarifa, menyampaikan kekhawatirannya atas menurunnya kinerja industri karet nasional.


    “Produktivitas karet kita terus turun dari tahun ke tahun, sementara negara kompetitor seperti Vietnam, India, dan Kamboja justru meningkat. Ini menunjukkan ada persoalan mendasar yang harus segera diatasi,” ujarnya.


    Penurunan produksi disebabkan tanaman tua, penyakit gugur daun, perubahan iklim, dan konversi lahan. Solusi jangka pendek meliputi pengendalian penyakit, subsidi pupuk, dan akses pembiayaan, sedankang jangka panjang menekankan peremajaan, hilirisasi, serta pembentukan Badan Karet Nasional.

    Teh: Perkuat Daya Saing Lewat Hilirisasi dan Inovasi
    Peneliti Pusat Penelitian Teh dan Kina (PPTK), Kralawi Sita, menyampaikan bahwa prospek teh Indonesia pada 2026 masih positif meski menghadapi tantangan seperti penurunan produksi dan persaingan global.


    “Nilai teh Indonesia kini tidak hanya ditentukan oleh harga, tetapi juga oleh kualitas, keberlanjutan, dan cerita di balik setiap proses produksinya,” ujarnya.

    Tren teh fungsional, matcha, dan kombucha membuka peluang besar untuk memperkuat pasar domestik dan ekspor. Revitalisasi teh bukan sekadar perbaikan di kebun, tetapi juga transformasi cara pandang terhadap teh sebagai produk budaya, ekonomi, dan lingkungan.

    Kopi dan Kakao: Harga Stabil, Hilirisasi Jadi Peluang
    Peneliti Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (PPKKI), Diany Faila, menyebut Prospek kedua komoditas ini tetap cerah meski menghadapi tantangan produktivitas dan sertifikasi berkelanjutan.

    “Konsumsi kopi global terus meningkat, ini peluang besar untuk ekspor kita,” jelasnya.


    Produksi kopi diperkirakan naik dengan harga robusta sekitar $4,2/kg dan arabika $7/kg, sementara kakao diproyeksikan stabil di $5–6/kg meski sempat menyentuh $12,9/kg awal tahun ini. Strategi ke depan menekankan pengembangan produk olahan, peremajaan tanaman, dan perluasan sertifikasi guna memperkuat daya saing kopi dan kakao Indonesia di pasar global.

    Gula: Produksi Naik, Harga Petani Turun
    Peneliti Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI), Danang Permadhi, menyebut produksi gula nasional diperkirakan meningkat dari 2,6 juta ton pada (2025) menjadi 2,8 juta ton (2026). Namun, kenaikan harga tidak diikuti perbaikan harga


    “Harga gula turun ke Rp14.500 per kilo, bahkan tetes tebu hanya Rp1.500 per kilo karena lemahnya permintaan,” ujarnya.

    Ia menyoroti dampak dari kemarau basah, menyebabkan kebun tergenang, menurunkan kualitas tebu dan meningkatkan biaya angkut. Sementara itu, kebijakan impor yang longgar dan dugaan kebocoran gula rafinasi memperburuk situasi. P3GI merekomendasikan evaluasi aturan impor, penguatan peran Bulog, pengawasan distribusi, serta membentuk badan khusus pengelola dana pengembangan tebu nasional.

    Sinergi untuk Masa Depan Perkebunan Indonesia
    Dengan berbagai paparan dari lima komoditas utama, Outlook Komoditas Perkebunan 2026 menegaskan bahwa sektor perkebunan Indonesia menghadapi tantangan sekaligus peluang besar. Peningkatan produktivitas, penguatan hilirisasi, dan penerapan prinsip keberlanjutan menjadi kunci agar komoditas nasional tidak hanya mampu bersaing di pasar global, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan jutaan keluarga petani.

    Forum ini sekaligus menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, peneliti, dan masyarakat dalam menyusun untuk membangun industri perkebunan yang tangguh, adaptif, dan berkelanjutan

    Keterangan Lebih Lanjut:
    Divisi Sekretariat Perusahaan
    PT Riset Perkebunan Nusantara
    Ponsel: 0811-1380-3523
    Email: rpn@rpn.co.id

  • Bersinergi untuk Masa Depan Sawit: Peran Strategis PT RPN dalam Menyatukan Riset, Regulasi, dan Inovasi Menuju Produktivitas dan Keberlanjutan Nasional

    Bogor, 24 Oktober 2025 – PT Riset Perkebunan Nusantara (PT RPN) memperkuat peran strategisnya dalam pengembangan industri kelapa sawit nasional melalui kolaborasi riset dan kebijakan publik. Bersama Badan Karantina Indonesia, PT RPN menyelenggarakan Talkshow Karantina Day 2025 bertema “Dari Karantina untuk Sawit Berkelanjutan: Mendukung Ketahanan Pangan dan Energi Indonesia” di IPB International Convention Center, Bogor.

    Kegiatan ini menghadirkan pelaku usaha, akademisi, peneliti, dan pemangku kepentingan sektor sawit. Diskusi berfokus pada peningkatan produktivitas, penguatan sistem biosekuriti, serta penerapan riset terapan untuk mendukung keberlanjutan industri sawit Indonesia.

    Edy Suprianto, Senior Executive Vice President Business Support PT RPN, menyampaikan apresiasi atas kemitraan strategis yang terbangun dengan berbagai lembaga, termasuk Badan Karantina Indonesia.

    “Kemitraan riset dan kebijakan merupakan kunci dalam memastikan keberlanjutan industri sawit Indonesia. Kolaborasi dengan Barantin ini menjadi langkah strategis untuk menjamin keamanan hayati sekaligus meningkatkan produktivitas dan efisiensi sektor perkebunan. Riset tidak bermakna tanpa regulasi yang kuat. Sebaliknya, regulasi lebih tajam jika dibangun atas basis data kuat. Di sinilah kolaborasi antara Badan Karantina Indonesia, Ditjen Perkebunan, BPDP, GAPKI, dan PT RPN menemukan relevansinya,” jelasnya.

    Sementara itu, Kepala Badan Karantina Indonesia Dr. Sahat M. Panggabean menegaskan bahwa kerja sama dengan lembaga riset seperti PT RPN sangat diperlukan untuk menjawab tantangan produktivitas.

    “Kolaborasi sudah tersusun dengan baik, lembaga riset ada, pendanaan ada, peneliti pakar. Namun kenyataannya, produktivitas kelapa sawit nasional baru sekitar 4 ton per hektare per satu tahun, padahal potensinya bisa 10 ton. Ada selisih 6 ton yang harus kita capai,” ujarnya tegas.


    Ia menambahkan, peningkatan produktivitas tidak hanya bergantung pada bibit unggul, tetapi juga pada pengelolaan tanah dan lingkungan yang berkelanjutan.

    “Kita punya varietas unggul, namun tanah dan tata kelola budidaya juga harus diperhatikan agar produktivitas dapat terus meningkat,” tambahnya.

    Talkshow menampilkan dua sesi paralel yang membahas kebijakan, strategi, dan implementasi riset sawit berkelanjutan. Sesi pertama berfokus pada arah kebijakan dan strategi nasional pengembangan industri sawit. Dalam sesi ini, para narasumber memaparkan berbagai perspektif kebijakan dan dukungan lintas sektor, antara lain:


    • Baginda Siagian (Direktorat Jenderal Perkebunan) yang membahas pengembangan industri sawit Indonesia yang berkelanjutan,
    • Antarjo Dikin (Deputi Bidang Karantina Tumbuhan) yang menjelaskan kebijakan dan regulasi karantina tumbuhan,
    • Dwi Asmono (Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia/GAPKI) yang menyoroti pentingnya biosekuriti sebagai fondasi keberlanjutan industri, serta
    • Arfie Thahar (Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit/BPDPKS) yang memaparkan dukungan pendanaan riset sawit melalui skema grant riset.

    Sesi kedua menitikberatkan pada penerapan hasil riset di lapangan. Dalam sesi ini, narasumber menyampaikan berbagai capaian dan inisiatif riset yang mendukung peningkatan produktivitas dan efisiensi sektor perkebunan, yaitu:
    • Edy Suprianto (PT RPN), yang menjelaskan progres eksplorasi Sumber Daya Genetik (SDG) kelapa sawit sebagai basis peningkatan produktivitas nasional,
    • Agus Eko Prasetyo dari Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) yang memaparkan perkembangan introduksi serangga penyerbuk asal Tanzania untuk memperkuat efisiensi penyerbukan, serta
    • Fitri Ujiyani (Direktorat Manajemen Risiko Karantina Tumbuhan) yang memaparkan sistem pengawasan karantina terintegrasi berbasis UU No. 21 Tahun 2019, guna memastikan introduksi spesies dilakukan secara aman, efektif, dan tidak berpotensi invasif.

    Kegiatan ini menjadi ruang kolaboratif bagi berbagai pihak untuk berbagi pengetahuan, memperluas jejaring, dan menjalin kerja sama di bidang riset serta pengawasan biosekuriti. Dengan peran strategisnya, PT RPN terus berupaya menyinergikan hasil riset dengan kebijakan dan praktik lapangan guna memperkuat daya saing dan keberlanjutan sektor sawit nasional.


    Keterangan Lebih Lanjut:
    Divisi Sekretariat Perusahaan
    PT Riset Perkebunan Nusantara
    Ponsel: 0811-1380-3523
    Email: rpn@rpn.co.id

  • Dari Riset untuk Dunia: PT RPN Bersama Negara Produsen Karet, Dorong Inovasi dan Kesejahteraan Petani

    Palembang, 25 Oktober 2025 – PT Riset Perkebunan Nusantara (PT RPN) melalui Pusat Penelitian Karet menegaskan perannya sebagai motor penggerak riset perkebunan nasional di kancah internasional. Bersama International Rubber Research and Development Board (IRRDB), PT RPN menjadi tuan rumah Workshop IRRDB 2025 di Palembang. Forum internasional ini memperkuat sinergi antarnegara produsen karet dunia dalam mendorong inovasi riset, peningkatan produktivitas, dan kesejahteraan petani.


    Selama tiga hari pelaksanaan, lebih dari seratus peserta dari India, Malaysia, Filipina, Indonesia, dan Thailand membahas solusi komprehensif bagi industri karet alam. Sebanyak 24 makalah ilmiah dipresentasikan, mencakup topik perbaikan tanaman, pengendalian penyakit, hingga strategi pemberdayaan petani.
    Sekretaris Jenderal IRRDB, Dr. Abdul Aziz, S.A., menekankan pentingnya menempatkan petani sebagai pusat perhatian dalam kebijakan industri karet.

    “Petani adalah tulang punggung industri, namun sering kali dikesampingkan dari diskusi kebijakan. Kita perlu kolaborasi yang lebih menyeluruh,” tegasnya.
    Hal senada disampaikan Prof. Dr. Ahmad Ibrahim dari UCSI University, yang menilai bahwa industri karet tengah menghadapi periode tersulit.


    “Kita butuh kerja sama yang lebih kuat, kompensasi yang adil untuk petani, dan riset yang melihat jauh ke depan,” ujarnya.

    Ia juga mendorong negara produsen untuk terlibat dengan International Rubber Study Group (IRSG), agar suara produsen karet semakin terdengar di level global.


    Pakar Ekonomi Association of Natural Rubber Producing Countries (ANRPC), Dr. Lekshmi Nair, menggeser paradigma industri dengan menyoroti pentingnya efisiensi biaya.

    “Jangan hanya mengejar harga tinggi, tapi juga cari cara menurunkan biaya produksi,” ungkapnya.

    Ia menambahkan, penyelarasan strategi industri dengan tujuan net-zero emmission dan peluang kredit karbon akan memperkuat pemberdayaan petani serta ketahanan rantai pasokan global.


    Sementara itu, Prof (Ris). Ir. Didiek Hadjar Goenadi, IRRDB Fellow, mendorong perhatian pemerintah terhadap sektor karet setara dengan komoditas seperti kelapa sawit.


    “Kita butuh inovasi dan nilai tambah. Sektor karet juga penting untuk ekonomi,” tegasnya.

    Workshop ini juga menghasilkan sejumlah inisiatif konkret untuk memperkuat industri karet di masa depan. Kepala Pusat Penelitian Karet PT RPN, Dr. Suroso Rahutomo, mengumumkan rencana peluncuran klon IRRI baru yang toleran terhadap penyakit Pestalotiopsis, sebagai bentuk komitmen Indonesia terhadap keberlanjutan industri. Selain itu, negara-negara anggota IRRDB sepakat melanjutkan Program Pertukaran Klon guna mempercepat pemuliaan tanaman di berbagai wilayah tropis.


    Forum juga menyepakati perlunya kerja sama antarnegara produsen untuk memastikan harga karet yang adil dan berkelanjutan, didukung oleh data biaya produksi yang transparan. Peserta menekankan bahwa pemerintah memiliki peran penting dalam meningkatkan penggunaan karet di dalam negeri, seperti melalui penerapan aspal berkaret dan bantalan seismik, guna memperkuat permintaan domestik dan menjaga stabilitas harga bagi petani.


    “Workshop ini menandai babak baru kolaborasi antara lembaga riset, universitas, dan pelaku industri. Saya optimistis kita dapat membawa industri karet menuju masa depan yang lebih berkelanjutan dan menyejahterakan, terutama bagi para petani,” tutur Abdul Aziz dalam sambutan penutup.

    Kegiatan ini mencerminkan semangat kolaborasi global yang tidak surut oleh tantangan. Dengan energi baru dan tekad bersama, komunitas karet alam berkomitmen untuk membangun masa depan industri yang lebih berkelanjutan, inklusif, dan berpihak pada kesejahteraan banyak pihak.

    Keterangan Lebih Lanjut:
    Divisi Sekretariat Perusahaan
    PT Riset Perkebunan Nusantara
    Ponsel: 0811-1380-3523
    Email: rpn@rpn.co.id