Category: Dunia Perkebunan

Berita seputar perkebunan lingkup PT. RPN

  • PT RPN Sambut Delegasi Duke Corporate Education Bahas Inovasi, ESG & Transformasi Perkebunan

    PT RPN Sambut Delegasi Duke Corporate Education Bahas Inovasi, ESG & Transformasi Perkebunan

    Kunjungan Duke Corporate Education: PT RPN Bahas Inovasi, ESG, dan Transformasi Industri Perkebunan

    Bogor, 21 Juli 2026 – PT Riset Perkebunan Nusantara (RPN) menerima kunjungan delegasi Duke Corporate Education (Duke CE) dalam rangka company visit yang bertujuan memperkuat kolaborasi di bidang pengembangan kepemimpinan, inovasi, serta implementasi praktik Environmental, Social, and Governance (ESG) pada sektor perkebunan.

    Kunjungan ini menjadi momentum strategis untuk memperkenalkan transformasi yang tengah dilakukan PTPN Group melalui RPN, khususnya dalam pengembangan riset, inovasi, digitalisasi, dan praktik bisnis berkelanjutan yang mendukung daya saing industri perkebunan di tingkat global.

    Delegasi Duke CE disambut oleh jajaran manajemen PT RPN dan mengikuti berbagai sesi, mulai dari pemaparan profil perusahaan, demonstrasi teknologi digital seperti Chat OPA, e-Hara, dan NusaGIS, hingga diskusi interaktif mengenai tantangan dan peluang industri perkebunan masa depan. Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan kunjungan lapangan ke Unit Bogor Getas serta Kebun Percobaan Kopyor Ciomas untuk melihat secara langsung aktivitas riset dan inovasi yang dikembangkan RPN.

    Dalam sambutannya, SEVP Riset, Inovasi & Sustainability PT RPN, Dr. Misnawi, menegaskan bahwa industri perkebunan menghadapi tantangan yang semakin kompleks dan dinamis seiring dengan pertumbuhan pasar global bisnis sektor perkebunan yang senantiasa berubah .

    "Perkebunan semakin berkembang dan semakin besar. Tantangan yang kita hadapi pun semakin besar. Karena itu, sinergi dan kolaborasi menjadi kunci. Pertemuan antara Duke Corporate Education, PT RPN, dan PTPN Group merupakan kesempatan berharga untuk mempererat kerja sama dalam membangun industri perkebunan yang lebih maju, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga memperluas jejaring dan dampaknya di tingkat global." Ungkap Misnawi.

    Sementara itu, Managing Director for Middle East & APAC Duke Corporate Education, Mr. Dennis Foo, menyampaikan apresiasi atas sambutan hangat dari PTPN Group dan PT RPN.

    "Terima kasih kepada PTPN Group dan seluruh panitia yang telah menerima kami hari ini. Berbagi wawasan mengenai ESG menjadi sangat penting karena keberlanjutan bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Kita membutuhkan ESG hari ini, besok, dan di masa depan sebagai fondasi bagi pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan."Ujar Dennis.

    Kunjungan ini menjadi langkah awal dalam membuka peluang kolaborasi yang lebih luas antara dunia industri dan institusi pendidikan global. Pertukaran pengetahuan, pengalaman, serta praktik terbaik diharapkan mampu memperkuat kapasitas sumber daya manusia, mempercepat inovasi, dan mendorong transformasi sektor perkebunan menuju industri yang lebih modern, berdaya saing, dan berkelanjutan.

    Melalui kolaborasi lintas negara dan lintas sektor ini, PT Riset Perkebunan Nusantara bersama PTPN Group terus menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan inovasi yang memberikan nilai tambah bagi industri perkebunan Indonesia sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pemain penting dalam ekosistem perkebunan berkelanjutan di tingkat dunia.

    Foto Kegiatan Pendukung

    Foto Kegiatan

    Foto Kegiatan

  • Festival Kopyor 2026 Bogor: Sinergi Riset, Edukasi, dan Agrowisata Kelapa Kopyor PPKS

    Festival Kopyor 2026 Bogor: Sinergi Riset, Edukasi, dan Agrowisata Kelapa Kopyor PPKS

    Festival Kopyor 2026: Sinergi Kolaborasi Riset, Edukasi dan Ekonomi Berkelanjutan

    Bogor, 11 Juli 2026 – PT Riset Perkebunan Nusantara (RPN) melalui Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Unit Bogor kembali menyelenggarakan agenda tahunan yaitu Festival Kopyor 2026. Acara berlangsung pada 11–12 Juli 2026 di Kebun Kopyor PPKS Unit Bogor, Jalan Jabaru, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor, menjadi wadah untuk memperkenalkan potensi kelapa kopyor sebagai komoditas unggulan Indonesia sekaligus memperkuat kolaborasi riset, edukasi, pemberdayaan masyarakat, dan pengembangan agrowisata.

    Festival secara resmi dibuka oleh Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, yang dalam sambutannya menyampaikan apresiasi terhadap keberadaan Kebun Kopyor PPKS Unit Bogor sebagai aset strategis yang memiliki potensi besar dalam mendukung pengembangan riset, inovasi, serta sektor gastronomi di Kota Bogor.

    "Pemerintah Kota Bogor mendukung penuh penyelenggaraan Festival Kopyor 2026 sebagai sarana edukasi publik sekaligus daya tarik agrowisata baru di Kota Bogor. Kelapa kopyor hasil inovasi PPKS terbukti memiliki kualitas unggul dan nilai ekonomi tinggi yang dapat mendorong UMKM dan pariwisata daerah," ujar Dedie.

    Kepala PPKS Unit Bogor, Dr. Agung Wahyu Susilo, menjelaskan bahwa kelapa kopyor kultur jaringan hasil riset PPKS memiliki keunggulan produktivitas tinggi dengan tingkat kepastian kopyor mencapai 95-100% per tandan, jauh di atas kopyor alam biasa.

    "Penyelenggaraan Festival Kopyor 2026 bertujuan untuk lebih mendekatkan hasil riset teknologi kultur jaringan kelapa kopyor kepada masyarakat luas, petani, pelaku industri olahan makanan, dan investor. Kami ingin kelapa kopyor tidak hanya dikenal sebagai buah eksotis, tetapi juga menjadi komoditas bisnis yang menguntungkan dan berkelanjutan," jelas Agung.

    Festival Kopyor 2026 dimeriahkan dengan berbagai kegiatan menarik, antara lain: bazar olahan kuliner dan minuman segar berbasis kelapa kopyor, pameran produk bibit kopyor bersertifikat, lokakarya teknik budidaya dan pemeliharaan pohon kopyor, lomba kreasimakanan kopyor antar-UMKM, serta wisata petik buah kopyor langsung di kebun percobaan.

    Antusiasme masyarakat terlihat dari jumlah pengunjung yang mencapai lebih dari 2.500 orang selama dua hari pelaksanaan festival. Melalui kegiatan ini, PT RPN dan PPKS berharap popularitas dan adopsi budidaya kelapa kopyor unggul dapat semakin meluas di seluruh penjuru Indonesia.

  • Lewat PPKS, PT RPN Raih Dua Penghargaan Bergengsi di Medbun Awards 2026

    Lewat PPKS, PT RPN Raih Dua Penghargaan Bergengsi di Medbun Awards 2026

    PT RPN Raih Dua Penghargaan Bergengsi pada Medbun Awards 2026: Dari Inovasi Menuju Prestasi

    Medan, 9 Juli 2026 – PT Riset Perkebunan Nusantara (RPN) melalui Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) kembali menorehkan prestasi membanggakan dengan meraih dua penghargaan bergengsi dalam ajang Medbun Awards 2026 yang diselenggarakan oleh Media Perkebunan di Medan, Kamis (9/7).

    Medbun Awards merupakan bentuk apresiasi Media Perkebunan kepada perusahaan, institusi, lembaga, dan insan perkebunan yang dinilai memiliki kontribusi nyata dalam meningkatkan daya saing industri perkebunan nasional melalui inovasi, keberlanjutan, peningkatan kinerja, serta penguatan sumber daya manusia, khususnya di sektor kelapa sawit.

    Dalam perhelatan tahun ini, PT RPN – PPKS berhasil memboyong dua kategori penghargaan utama, yaitu:

    Kategori Inovasi Teknologi Perkebunan Terbaik – atas pengembangan riset bahan tanam unggul kelapa sawit tahan cekaman iklim dan inovasi pupuk hayati berbasis mikroba lokal yang terbukti meningkatkan produktivitas serta efisiensi pemupukan di lahan perkebunan.

    Kategori Lembaga Riset dan Pengembang Industri Sawit Berkelanjutan – atas peran aktif PPKS dalam mendampingi petani sawit rakyat melalui program peremajaan sawit rakyat (PSR), sertifikasi ISPO, serta penyebarluasan praktis teknis budidaya yang ramah lingkungan.

    Penghargaan diserahkan langsung oleh Pemimpin Redaksi Media Perkebunan, Bapak Qayum Amala, dan diterima oleh Kepala PPKS, Dr. Edwin Syahputra Lubis, didampingi jajaran peneliti utama PPKS.

    Dalam sambutannya usai menerima penghargaan, Kepala PPKS, Dr. Edwin Syahputra Lubis, menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas apresiasi yang diberikan oleh Media Perkebunan serta seluruh pihak yang terus mendukung keberadaan PPKS sebagai pusat keunggulan riset kelapa sawit di Indonesia.

    "Penghargaan ini merupakan bukti komitmen dan kerja keras seluruh insan peneliti dan staf PT RPN – PPKS yang tanpa henti terus berinovasi untuk menjawab berbagai tantangan di industri kelapa sawit. Prestasi ini bukan akhir, melainkan pendorong semangat bagi kami untuk terus menghadirkan teknologi dan solusi riset yang berdampak nyata bagi kemajuan industri perkebunan nasional dan kesejahteraan petani," ujar Edwin.

    Ajang Medbun Awards 2026 dihadiri oleh lebih dari 300 peserta yang terdiri atas pejabat Kementerian Pertanian, perwakilan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), pimpinan perusahaan perkebunan BUMN dan swasta, asosiasi petani sawit, akademisi, serta insan pers nasional.

    Keberhasilan meraih dua penghargaan ini semakin memperkuat posisi PT Riset Perkebunan Nusantara melalui PPKS sebagai institusi riset terdepan yang tidak hanya unggul dalam riset dan sains, tetapi juga mampu mentransformasikan hasil penelitian menjadi solusi praktis dan komersial yang mendukung industri kelapa sawit Indonesia yang berdaya saing, inklusif, dan berkelanjutan.

    Foto Kegiatan Pendukung

    Foto Kegiatan

    Foto Kegiatan

  • PT RPN dan IRRDB Gelar Seminar Internasional 2026 di Bali Perkuat Industri Karet Alam Global

    PT RPN dan IRRDB Gelar Seminar Internasional 2026 di Bali Perkuat Industri Karet Alam Global

    PT Riset Perkebunan Nusantara Gelar Seminar Internasional: Kolaborasi Perkuat Ketahanan Ekonomi Industri Karet Dunia

    Bali, Juni 2026 – PT Riset Perkebunan Nusantara melalui Pusat Penelitian Karet bekerja sama dengan International Rubber Research and Development Board (IRRDB) menyelenggarakan IRRDB Socio-Economic Seminar 2026 pada 30 Juni–2 Juli 2026 di Hotel Aryaduta, Kuta, Bali. Mengusung tema "Strengthening Economic Resilience and Value Addition in the Global Natural Rubber Supply Chain", seminar ini menjadi forum internasional yang mempertemukan para peneliti, pembuat kebijakan, pelaku industri, akademisi, dan pemangku kepentingan dari berbagai negara untuk membahas tantangan serta peluang dalam pengembangan industri karet alam global.

    Seminar ini dihadiri oleh sejumlah tamu yang mewakili pemerintah, asosiasi industri, dan organisasi internasional, di antaranya Wakil Sekretaris Jenderal IRRDB, Dr. Wan Abdul Rahaman, Direktur Hasil Hutan dan Industri Perkebunan Direktorat Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian RI, Direktur Sabah Rubber Industry Board (Malaysia), Ketua International Rubber Consortium (IRCo), Ketua Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (GAPKINDO), dan Ketua Asosiasi Produsen Ban Indonesia (APBI). Kehadiran para pemangku kepentingan tersebut semakin menegaskan pentingnya sinergi lintas sektor dan lintas negara dalam mendorong kemajuan industri karet alam yang berdaya saing dan berkelanjutan.

    Dalam sambutannya saat membuka seminar, Direktur PT Riset Perkebunan Nusantara, Iman Wijaya, menyampaikan bahwa industri karet alam saat ini berada pada fase krusial yang membutuhkan transformasi strategis. Tantangan seperti fluktuasi harga global, dampak perubahan iklim, penyakit tanaman gugur daun (Pestalotiopsis), masalah ketenagakerjaan, serta persaingan dengan bahan sintetis menuntut adanya langkah konkrit dan terkoordinasi antarnegara produsen.

    "Karet alam bukan hanya komoditas perdagangan, tetapi merupakan sumber penghidupan bagi jutaan petani kecil di seluruh dunia, khususnya di Asia Tenggara. Melalui penyelenggaraan seminar internasional ini, kami berharap tercipta formulasi strategi riset dan kebijakan ekonomi yang mampu meningkatkan nilai tambah (value addition), memperkuat ketahanan rantai pasok, serta menjamin keberlanjutan pendapatan dan kesejahteraan petani karet alam," papar Iman.

    Sementara itu, Sekretaris Jenderal IRRDB dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan oleh Wakil Sekjen, Dr. Wan Abdul Rahaman, mengapresiasi keandalan PT RPN dan Pusat Penelitian Karet sebagai tuan rumah penyelenggara. Beliau menekankan pentingnya adopsi riset sosio-ekonomi dan inovasi teknologi dalam mendukung kepatuhan terhadap standar keberlanjutan global, termasuk regulasi bebas deforestasi (EUDR).

    Rangkaian kegiatan seminar diisi dengan sesi keynote speech, presentasi makalah ilmiah dari 15 negara anggota IRRDB, diskusi panel sosio-ekonomi perkebunan, serta pameran hasil inovasi produk olahan karet ramah lingkungan seperti aspal karet, komposit karet alami, dan lateks bebas alergen. Kegiatan diakhiri dengan kunjungan lapangan (field trip) ke Unit Riset Bogor Getas PT RPN.

    Melalui suksesnya penyelenggaraan IRRDB Socio-Economic Seminar 2026, PT Riset Perkebunan Nusantara dan Pusat Penelitian Karet mempertegas peran strategis Indonesia di kancah internasional dalam memimpin riset, inovasi, dan pengembangan kebijakan industri karet alam dunia.

  • PT RPN Melalui Pusat Penelitian Teh dan Kina dan Asosiasi Teh Indonesia Gelar Webinar: Strategi Adaptasi dan Mitigasi El Nino untuk Perkuat Ketahanan Industri Teh Nasional

    Bandung, 9 Juni 2026 – PT Riset Perkebunan Nusantara (PT RPN) melalui Pusat Penelitian Teh dan Kina (PPTK) bekerja sama dengan Asosiasi Teh Indonesia (ATI) telah menyelenggarakan webinar bertajuk “Ketahanan Industri Teh Menghadapi El Nino: Strategi Terpadu Adaptasi dan Mitigasi untuk Perkebunan Teh” secara daring melalui Zoom Meeting.

    Kegiatan ini diselenggarakan sebagai upaya meningkatkan kesiapsiagaan dan ketahanan sektor teh nasional dalam menghadapi dampak fenomena El Nino yang diperkirakan akan kembali memengaruhi berbagai wilayah di Indonesia. Fenomena tersebut berpotensi menyebabkan penurunan curah hujan, peningkatan suhu udara, dan defisit air yang dapat berdampak pada produktivitas serta kualitas tanaman teh.

    Sebagai salah satu komoditas perkebunan strategis nasional, teh memiliki peran penting dalam mendukung perekonomian daerah, ekspor, serta mata pencaharian jutaan masyarakat yang terlibat di sepanjang rantai nilai industri teh. Oleh karena itu, diperlukan langkah antisipatif yang berbasis data, pengalaman lapangan, dan hasil penelitian untuk meminimalkan dampak perubahan iklim terhadap keberlanjutan industri ini.

    Webinar ini dihadiri oleh kementerian dan lembaga pemerintah, dinas provinsi dan kabupaten/kota, perusahaan perkebunan negara dan swasta, asosiasi, akademisi, lembaga penelitian, kelompok tani, NGO, media massa, serta masyarakat umum yang memiliki perhatian terhadap pengembangan industri teh nasional.

    Direktur PT Riset Perkebunan Nusantara, Dr. Iman Yani Harahap dalam sambutannya menyampaikan apresiasinya atas terselenggaranya kembali webinar yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan industri teh nasional.

    “Tentu saja kami menyambut gembira kembali PPTK melaksanakan webinar ini. Melalui webinar ini, kami berharap seluruh pihak dapat saling berbagi pengalaman, pengetahuan, dan pembelajaran sehingga mampu memperkuat kesiapan sektor teh dalam menghadapi tantangan iklim ke depan,” ujarnya.

    Senada dengan hal tersebut, Ketua Umum Asosiasi Teh Indonesia, Dede Kusdiman menegaskan pentingnya kolaborasi seluruh pemangku kepentingan dalam menjaga keberlanjutan industri teh nasional.

    “Dengan komitmen bersama untuk menjaga industri teh nasional, kita perlu memahami bahwa fenomena El Nino berpotensi menurunkan produktivitas perkebunan teh. Melalui webinar ini, saya berharap para peserta dapat memperoleh wawasan yang lebih mendalam mengenai dampak El Nino serta berbagai strategi mitigasi dan adaptasi guna menjaga produktivitas dan daya saing teh Indonesia,” Ungkapnya.

    Untuk memberikan perspektif yang komprehensif, webinar ini menghadirkan narasumber dari unsur regulator, praktisi industri, dan lembaga penelitian.

    Sesi pertama menghadirkan Dr. Ardhasena Sopaheluwakan, Kepala Deputi Bidang Klimatologi BMKG, memaparkan materi mengenai “Prediksi El Nino 2026 dan Potensi Dampaknya terhadap Perkebunan Teh”.

    Selanjutnya, Irwan Kurniawan, General Manager PT Perkebunan Nusantara I Reg 2, membagikan pengalaman perusahaan dalam menghadapi periode kemarau panjang melalui materi “Pengalaman Menghadapi Kemarau Panjang, Dampak terhadap Produksi dan Operasional”.

    Dari sisi penelitian dan pengembangan, Erdiansyah Rezamela, M.Agr., Kepala Bagian Penelitian PPTK PT RPN, menyampaikan materi mengenai “Langkah Mitigasi dalam Menghadapi El Nino di Perkebunan Teh”. Materi ini akan mengulas berbagai strategi teknis dan rekomendasi berbasis hasil penelitian yang dapat diterapkan untuk menjaga produktivitas tanaman teh pada kondisi cekaman kekeringan.

    Sementara itu, Dr. Nuzul Hijri Darlan, Peneliti Agronomi PT RPN, memaparkan materi “Pemanfaatan Nusaklim pada Kondisi Perubahan Iklim”. Nusaklim merupakan instrumen berbasis data dan informasi iklim yang dapat dimanfaatkan sebagai pendukung pengambilan keputusan dalam pengelolaan perkebunan. Pemanfaatan teknologi ini diharapkan dapat membantu pelaku usaha meningkatkan kemampuan prediksi, mitigasi, dan adaptasi terhadap berbagai risiko iklim yang berpotensi memengaruhi produktivitas tanaman.

    Kehadiran para narasumber tersebut mencerminkan pentingnya sinergi antara informasi iklim, pengalaman operasional perkebunan, serta inovasi berbasis riset dalam membangun ketahanan industri teh nasional.

    Webinar ini diharapkan dapat menjadi wadah pertukaran pengetahuan dan pengalaman sekaligus menghasilkan rekomendasi yang aplikatif bagi seluruh pemangku kepentingan sektor teh Indonesia. Melalui kegiatan ini, PT RPN dan Asosiasi Teh Indonesia berharap dapat memperkuat kolaborasi antarpemangku kepentingan serta mendorong implementasi strategi adaptasi dan mitigasi yang lebih efektif guna menjaga keberlanjutan, produktivitas, dan daya saing industri teh Indonesia di tengah tantangan perubahan iklim global.

  • Perluas Kolaborasi Riset Internasional, PT RPN Sambut Delegasi Universiti Putra Malaysia (UPM)

    Perluas Kolaborasi Riset Internasional, PT RPN Sambut Delegasi Universiti Putra Malaysia (UPM)

    PT RPN Sambut Delegasi Universiti Putra Malaysia: Perluas Kolaborasi Internasional di Bidang Riset dan Inovasi Perkebunan

    Bogor, 25 Juni 2026 – PT Riset Perkebunan Nusantara (PT RPN) menerima kunjungan delegasi Institute of Plantation Studies (IKP), Universiti Putra Malaysia (UPM) dalam agenda Benchmarking Visit and Collaboration Discussion yang diselenggarakan di Aula Kantor Direksi PT RPN, Bogor, Kamis (25/6).

    Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari Memorandum of Understanding (MoU) yang telah ditandatangani kedua institusi pada Desember 2024 sebagai komitmen bersama dalam memperkuat kolaborasi riset, inovasi, dan pengembangan sumber daya manusia di sektor perkebunan.

    Kunjungan delegasi UPM dipimpin oleh Direktur IKP UPM, Prof. Dr. Shaufique Fahmi Ahmad Sidique, didampingi oleh jajaran profesor dan peneliti utama UPM dari berbagai bidang keahlian perkebunan. Rombongan diterima secara resmi oleh Direktur PT RPN, Bapak Iman Wijaya, bersama jajaran Senior Executive Vice President (SEVP) dan para Kepala Pusat Penelitian di lingkungan PT RPN.

    Dalam sambutannya, Direktur PT RPN, Iman Wijaya, menyampaikan apresiasi atas kunjungan delegasi UPM dan menegaskan pentingnya kemitraan strategis antar-lembaga riset di kawasan Asia Tenggara untuk menghadapi tantangan global di sektor perkebunan.

    "Sektor perkebunan saat ini dihadapkan pada tantangan besar, seperti perubahan iklim, tuntutan keberlanjutan, isu ketenagakerjaan, serta kebutuhan digitalisasi dan otomatisasi. Melalui sinergi riset antara PT RPN dan IKP UPM, kita dapat menggabungkan kepakaran dan sumber daya untuk melahirkan inovasi yang tidak hanya bermanfaat bagi Indonesia dan Malaysia, tetapi juga bagi kemajuan industri perkebunan global," ujar Iman.

    Sementara itu, Direktur IKP UPM, Prof. Dr. Shaufique Fahmi Ahmad Sidique, menyampaikan bahwa benchmarking visit ini bertujuan untuk memperdalam pemahaman mengenai ekosistem riset yang dikembangkan PT RPN, khususnya dalam komersialisasi hasil riset dan alih teknologi kepada industri maupun petani.

    "PT RPN memiliki rekam jejak yang sangat kuat dalam pengembangan riset komoditas perkebunan strategis seperti kelapa sawit, karet, kopi, kakao, serta teh dan kina. Kami berharap kolaborasi ini dapat diwujudkan dalam bentuk riset bersama (joint research), publikasi ilmiah bersama, pertukaran peneliti dan mahasiswa, serta pengembangan teknologi berbasis keberlanjutan," ungkap Shaufique.

    Agenda diskusi difokuskan pada lima bidang kerja sama prioritas, yaitu: pemuliaan tanaman dan bioteknologi, pengelolaan kesehatan tanaman dan perlindungan hayati, mekanisasi dan digitalisasi perkebunan, sosial-ekonomi dan rantai pasok perkebunan, serta implementasi prinsip-prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) di sektor perkebunan.

    Selain sesi diskusi teknis, delegasi UPM juga berkesempatan meninjau fasilitas laboratorium terpadu PT RPN serta fasilitas riset kelapa kopyor di Kebun Percobaan Ciomas, Bogor.

    Melalui kunjungan ini, PT RPN dan Universiti Putra Malaysia sepakat untuk menyusun rencana aksi (action plan) konkret yang akan diimplementasikan dalam kurun waktu 2026–2028, sebagai wujud nyata penguatan kolaborasi riset dan inovasi sektor perkebunan di tingkat regional dan internasional.

  • PT RPN Gelar Workshop Rekomendasi Pemupukan dan Agroklimat Komoditas Perkebunan

    PT RPN Gelar Workshop Rekomendasi Pemupukan dan Agroklimat Komoditas Perkebunan

    Perkuat Kolaborasi dan Kompetensi Peneliti: PT RPN Selenggarakan Workshop Rekomendasi Pemupukan dan Agroklimat

    Bogor, 25-26 Juni 2026 – PT Riset Perkebunan Nusantara (PT RPN) menyelenggarakan Workshop Rekomendasi Pemupukan dan Agroklimat Komoditas Perkebunan yang berlangsung selama dua hari pada 25–26 Juni 2026, berlokasi di Kantor Direksi PT RPN. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya perusahaan dalam memperkuat kapasitas peneliti sekaligus mendorong kolaborasi riset lintas Pusat Penelitian serta sinergi dengan institusi penelitian dan perguruan tinggi.

    Workshop dilaksanakan sebagai respons terhadap semakin meningkatnya kebutuhan akan rekomendasi pemupukan yang berbasis data, adaptif terhadap perubahan iklim, dan mampu mendukung produktivitas perkebunan secara berkelanjutan.

    Kegiatan workshop dibuka secara resmi oleh SEVP Riset, Inovasi, & Sustainability PT RPN, Dr. Misnawi. Dalam pengarahannya, beliau menekankan bahwa pemupukan presisi berbasis data tanah, jaringan tanaman, dan analisis agroklimat merupakan faktor kunci dalam mengoptimalkan produktivitas tanaman perkebunan di tengah dinamika harga pupuk dan perubahan iklim global.

    "Rekomendasi pemupukan tidak lagi dapat dilakukan secara umum atau diseragamkan. Kita membutuhkan pendekatan presisi yang memperhitungkan kondisi spesifik lokasi, karakteristik tanah, serta dinamika cuaca dan agroklimat. Melalui workshop ini, para peneliti diharapkan dapat menyelaraskan metodologi dan standar analisis sehingga rekomendasi yang dihasilkan semakin akurat, efisien, dan ramah lingkungan," tegas Misnawi.

    Workshop menghadirkan sejumlah pakar dan narasumber utama di bidang ilmu tanah, pemupukan, dan agroklimat, baik dari internal PT RPN maupun pakar tamu dari Kementerian Pertanian dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Rangkaian materi meliputi: analisis tren perubahan iklim dan dampaknya terhadap kesuburan tanah, formulasi pupuk spesifik lokasi, pemanfaatan sistem informasi geografis (GIS) dan pemetaan agroklimat, serta integrasi pupuk organik dan hayati dalam pengelolaan hara terpadu.

    Selain sesi pemaparan materi dan diskusi kelompok, peserta workshop yang terdiri atas lebih dari 50 peneliti dari seluruh Pusat Penelitian di bawah naungan PT RPN (PPKS, Puslitkoka, PPK, P3GI, dan PPTK) juga melakukan penyusunan draft panduan teknis standar (SOP) rekomendasi pemupukan komoditas perkebunan terintegrasi.

    Melalui penyelenggaraan workshop ini, PT RPN berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas layanan analisis tanah dan daun serta menghasilkan rekomendasi pemupukan teruji yang dapat dimanfaatkan oleh PTPN Group, perusahaan perkebunan swasta, dan petani rakyat di seluruh Indonesia.

  • Pusat Penelitian Teh dan Kina (PPTK) Gelar Kelas Budidaya Teh untuk Petani Rakyat

    Pusat Penelitian Teh dan Kina (PPTK) Gelar Kelas Budidaya Teh untuk Petani Rakyat

    PT RPN Melalui Pusat Penelitian Teh dan Kina Selenggarakan Kelas Belajar Budidaya Teh: Tingkatkan Kapasitas Petani Teh Rakyat

    Bandung, 3 Juni 2026 – PT Riset Perkebunan Nusantara (RPN) melalui Pusat Penelitian Teh dan Kina (PPTK) menyelenggarakan kegiatan Kelas Belajar Budidaya Teh yang diikuti oleh petani teh rakyat dari berbagai kelompok tani di Kabupaten Bandung. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani mengenai teknologi budidaya teh yang optimal sesuai dengan kondisi dan jenis kebun masing-masing.

    Program ini merupakan bagian dari upaya PPTK dalam memperkuat penyebarluasan inovasi dan hasil penelitian kepada masyarakat, khususnya petani teh rakyat. Melalui pembelajaran yang diberikan, peserta diharapkan mampu menerapkan teknik budidaya yang lebih efektif sehingga dapat meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil kebun teh.

    Materi pembelajaran disampaikan oleh para peneliti dan teknisi berpengalaman dari PPTK, meliputi pengelolaan tanah dan pemupukan yang efisien, teknik pemangkasan dan pemetikan yang tepat, pengendalian hama dan penyakit tanaman (OPT) berbasis ramah lingkungan, serta pengelolaan kebun adaptif terhadap perubahan iklim. Selain penyampaian materi secara teoritis, peserta juga mengikuti sesi diskusi dan praktikum lapangan di areal kebun percobaan PPTK.

    Kepala PPTK, Dr. Mochamad Choirol Amri, menyampaikan bahwa perbaikan teknik budidaya di tingkat petani merupakan kunci penting dalam menjaga keberlanjutan industri teh nasional.

    "Sebagian besar areal perkebunan teh di Indonesia dikelola oleh petani rakyat. Oleh karena itu, peningkatan kapasitas petani melalui penerapan inovasi teknologi budidaya menjadi sangat krusial agar produktivitas dan mutu teh rakyat dapat meningkat, sekaligus memberikan kesejahteraan yang lebih baik bagi petani," ujar Choirol.

    Para peserta menyambut positif penyelenggaraan Kelas Belajar Budidaya Teh ini karena memperoleh pengetahuan praktis yang dapat langsung diterapkan di kebun mereka. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi sarana pembentukan jaringan komunikasi antara petani teh dan para peneliti PPTK untuk berkonsultasi mengenai berbagai permasalahan teknis di lapangan.

    Melalui kegiatan ini, PT RPN dan PPTK menegaskan komitmennya untuk terus mendukung penguatan sektor teh nasional melalui pendampingan teknologi, edukasi berkelanjutan, dan sinergi bersama seluruh pemangku kepentingan di industri teh Indonesia.

  • RPN Hadirkan Museum Gula Indonesia: Rumah Sejarah dan Inovasi Pergulaan

    Pasuruan – Sejarah baru industri gula nasional terukir pada Rabu (29/4) di Gedung P3GI, Kota Pasuruan. PT Riset Perkebunan Nusantara (RPN) melalui Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI) menggelar soft launching Museum Gula Indonesia dalam rangkaian Pertemuan Teknis IKAGI (Ikatan Ahli Gula Indonesia) 2026.


    Museum Gula Indonesia dihadirkan sebagai pusat edukasi dan pelestarian sejarah industri gula nasional yang diharapkan mampu menjadi ruang pembelajaran lintas generasi, mulai dari sejarah pergulaan era kolonial hingga perkembangan industri modern.


    Peluncuran museum disambut antusias oleh peserta yang terdiri dari perwakilan pabrik gula, akademisi, peneliti, hingga petani tebu. Kepala P3GI, Aris Lukito, S.P., M.Si., menyampaikan bahwa Gedung P3GI dipilih karena memiliki nilai historis penting dalam perjalanan industri gula Indonesia.

    “Kami mengangkat tema awal Museum Gula Indonesia adalah Era Perkebunan Tebu Kolonial hingga Perkebunan Modern. Kita berada di tempat yang sangat historis, yang dulu punya peran besar bagi kemajuan industri gula di Indonesia,” ungkapnya.


    Museum Gula Indonesia dirancang tidak sekadar sebagai ruang pajang artefak. Lebih dari itu, museum ini menjadi jembatan ilmu antargenerasi. Generasi terdahulu dapat mengenang perjalanan industri gula, generasi saat ini dapat mempelajari perkembangan teknologi on farm dan off farm, sementara generasi mendatang diharapkan memiliki fondasi kuat untuk melanjutkan cita-cita swasembada gula dan pengembangan bioetanol.


    Antusiasme peserta terlihat jelas dalam acara ini. Sejumlah perwakilan pabrik gula menilai museum ini akan memberikan kontribusi nyata terhadap peningkatan produktivitas, khususnya dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan pengembangan bioetanol.

    “Saya sangat terkesan dengan acara ini. P3GI memang tempatnya para ahli dan pusat ilmu pengetahuan. Semoga Museum Gula Indonesia terus dijaga dan dimanfaatkan sebaik-baiknya,” ujar salah satu peserta.


    Dukungan terhadap pengembangan museum juga disampaikan Direktur PT RPN, Iman Yani Harahap. Ia menegaskan bahwa museum ini merupakan langkah strategis dalam membangun ekosistem pengetahuan industri gula nasional.

    “Soft launching Museum Gula Indonesia ini bukan hanya momentum seremonial, tetapi titik awal membangun ekosistem pengetahuan yang menghubungkan sejarah panjang industri gula dengan kebutuhan masa depan. Dengan mengambil lokasi di P3GI Pasuruan yang sarat nilai historis, pembelajaran dari era kolonial hingga modern harus menjadi pijakan dalam mendorong inovasi, termasuk penguatan produktivitas, adaptasi perubahan iklim, dan pengembangan bioetanol. Kami meyakini museum ini akan menjadi pusat unggulan yang tidak hanya menyimpan memori, tetapi juga menggerakkan masa depan industri gula nasional,” ujarnya.

    Saat ini, Museum Gula Indonesia masih dalam tahap pengembangan awal, baik dari sisi koleksi maupun tata pameran. Meski demikian, peluncuran ini menjadi simbol kebangkitan ekosistem pergulaan nasional yang lebih terintegrasi dan berkelanjutan. Soft launching ini sekaligus menandai bahwa perjalanan panjang gula Nusantara, dari masa kolonial menuju swasembada, kini memiliki “rumah abadi” untuk dikenang, dipelajari, dan diwariskan kepada generasi mendatang.
    Ke depan, di bawah naungan PT RPN dengan dukungan IKAGI serta seluruh insan pergulaan, Museum Gula Indonesia diharapkan menjadi pusat unggulan yang tidak hanya menyimpan memori sejarah, tetapi juga mendorong inovasi dan kesejahteraan industri gula Indonesia secara berkelanjutan.

  • PT RPN Jadi Tuan Rumah Pertemuan Teknis IKAGI 2026 : Perkuat Strategi Nasional Menuju Swasembada Gula

    Pasuruan – Pertemuan Teknis Ikatan Ahli Gula Indonesia (IKAGI) 2026 resmi dilaksanakan pada Selasa, 29 April 2026, bertempat di Gedung H P3GI, Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia, Pasuruan, Jawa Timur. Acara ini mengangkat tema besar tentang “Penguatan Industri Gula Nasional Dalam Rangka Mencapai Kemandirian Gula dan Energi”, dengan fokus pada adaptasi perubahan iklim hingga pengembangan bioetanol.


    PT Riset Perkebunan Nusantara (PT RPN) melalui P3GI turut berperan sebagai tuan rumah sekaligus mendukung penguatan riset dan inovasi di sektor pergulaan nasional. Forum ini menjadi wadah kolaborasi antara peneliti, praktisi, akademisi, dan pelaku industri dalam merumuskan solusi untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan daya saing industri gula Indonesia.


    Ketua IKAGI, Dr. Aris Toharisman, menyampaikan bahwa target swasembada gula nasional dibagi dalam dua tahap, yakni swasembada gula konsumsi pada 2028 dan swasembada total pada 2030. Menurutnya, tantangan utama industri saat ini tidak hanya terkait pemenuhan kebutuhan konsumsi, tetapi juga penciptaan nilai tambah melalui inovasi dan pengembangan produk turunan.

    “Tantangan industri gula ke depan tidak hanya pada pemenuhan kebutuhan konsumsi, tetapi juga menciptakan nilai tambah melalui inovasi dan pengembangan bioetanol,” ujar Dr. Aris Toharisman.


    Ia juga menekankan pentingnya strategi intensifikasi guna meningkatkan produktivitas tebu tanpa perlu melakukan ekspansi lahan besar-besaran.

    “Strategi intensifikasi harus menjadi prioritas dengan target peningkatan produktivitas hingga minimal 6 ton per hektare,” jelasnya.


    Selain aspek produktivitas, Aris juga menekankan pentingnya kualitas varietas tebu serta kemampuan adaptasi terhadap perubahan iklim. Ia mengingatkan bahwa peningkatan produksi tidak akan optimal tanpa didukung kualitas tanaman yang baik dan inovasi di sektor budidaya maupun teknologi pengolahan.


    IKAGI 2026 juga menghadirkan sejumlah keynote speaker yang berkompeten di bidang industri gula dan perkebunan, yakni Mahmudi, S.P., M.Si. selaku Direktur Utama PT Sinergi Gula Nusantara, Arinta Rury F., S.P., M.P. selaku Peneliti Ahli Utama PT Riset Perkebunan Nusantara – Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia, Ir. Kunthi W., S.T., M.Eng., IPM selaku Kepala Divisi Riset PT Kebun Agung Group, serta Endri Novianto, S.P. selaku Direktur Utama PT Kebon Tebu Mas.


    Kehadiran para keynote speaker tersebut memperkaya perspektif diskusi terkait tantangan dan peluang industri gula di masa depan, khususnya dalam mendorong inovasi, efisiensi, serta keberlanjutan sektor pergulaan nasional.


    Melalui forum ini, PT RPN berharap sinergi antara dunia riset dan industri semakin kuat dalam mendukung terwujudnya kemandirian gula dan energi nasional.