Category: Diseminasi Teknologi

  • Kolaborasi PT RPN-PPKKI dan Pemkab Murung Raya, Gelar Bimbingan Teknis Komoditas Kakao Hulu Hilir

    Murung Raya, Kalimantan Tengah – PT PRN-Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia bersama Pemerintah Kabupaten Murung Raya bersama sukses menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Komoditas Kakao Hulu Hilir pada tanggal 27 – 30 Oktober 2024. Acara yang dipandu oleh para ahli dari PT RPN-PPKKI ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan dan pengetahuan petani serta pelaku usaha kakao di Murung Raya dalam pengelolaan komoditas kakao secara menyeluruh, dari hulu hingga hilir.

    Berbagai materi pelatihan yang disampaikan oleh para ahli dari PT RPN-PPKKI, yaitu Bayu Setyawan, Fakhrusy Zakariyya, Hendy Firmanto, Dedi Anwar, Hikmatullah Adi Cahyo dan Aditya Dwiky Darmawan meliputi ilmu seputar peningkatan produktivitas dan kualitas kakao dari hulu hingga hilir, bimtek ini juga menghadirkan materi yang komprehensif, mulai dari teori hingga praktik langsung di lapangan. Selain materi budidaya dan manajemen pasca-panen, peserta juga mendapatkan pelatihan strategi pemasaran produk olahan kakao.

    Kegiatan ini secara resmi dibuka oleh Pj. Bupati Murung Raya, Hermon, yang turut didampingi oleh sejumlah petani dan penyuluh setempat. Hermon mengungkapkan harapannya agar komoditas kakao dapat menjadi sumber pendapatan yang berkelanjutan bagi masyarakat Murung Raya “Kami ingin para petani memiliki keterampilan yang lebih baik untuk mengolah kakao dari proses budidaya hingga siap dipasarkan, semoga langkah ini membuka peluang baru bagi ekonomi lokal,” ujar Hermon.

    Menutup rangkaian kegiatan, dilakukan panen perdana kakao yang dipimpin langsung oleh Pj. Bupati Hermon. Momen ini disambut antusias oleh para petani dan penyuluh yang hadir, serta menjadi simbol keberhasilan tahap awal dari upaya pengembangan kakao di Murung Raya. Dengan kegiatan ini, diharapkan pengelolaan kakao di Murung Raya akan semakin profesional dan dapat memberikan dampak positif bagi perekonomian lokal. PT RPN-PPKKI berkomitmen untuk terus mendukung pengembangan sektor kakao di Indonesia melalui berbagai program riset dan pengembangan.


    Keterangan Lebih Lanjut:
    Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia
    Telp : 0331757130
    Email : iccri@iccri.net

  • PUSLITKOKA BERPARTISIPASI DALAM GELARAN EKSPOSE HASIL RISET UNGGULAN DAN GELAR TEKNOLOGI PT. RISET PERKEBUNAN NUSANTARA

    Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia yang tergabung dalam PT. Riset Perkebunan Nusantara  (PT. RPN) berpartisipasi memaparkan hasil riset dalam gelaran Ekspose Hasil Riset Unggulan dan Gelar Teknologi Hasil Penelitian yang dilaksanakan pada 21 -22 November 2023 di Gedung Agro Plaza, Jakarta.

    Acara ekspose tersebut dilaksanakan secara Hybrid, dihadiri oleh Asisten Deputi (Asdep) Industri Perkebunan dan Kehutanan Kementerian BUMN, Bapak Rachman Ferry Isfianto; Direktur Utama Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero), Bapak Mohammad Abdul Ghani, Komisaris Utama PT RPN, Bapak Sjukrianto Yulia; Jajaran Board of Advisory IPI, Bapak Joefly Joesoef Bahroeny dan Bapak Firdaus Ali; Direktur PTPN IV, Bapak Sucipto Prayitno serta Direktur PT. RPN Bapak Iman Yani Harapan beserta jajarannya.

    Berbagai rangkaian acara telah dilaksanakan, antara lain penandatanganan Surat Perjanjian Kerja Sama (SPK) dan launching produk teknologi Nusaklim, yakni peranti stasiun deteksi iklim otomatis, NusaGis (layanan pemetaan lahan), dan OPA (Oil Palm Assistant) dan pemaparan 17 hasil riset unggulan PTPN Grup yang disampaikan oleh peneliti-peneliti terbaik PT RPN.

    Dalam kesempatan tersebut Tim Peneliti dari Puslitkoka yang diwakili oleh Ari Wibowo, S.P., M.Sc. menyampaikan Kemajuan Hasil Riset Unggulan dalam kerjasamanya dengan PT. Perkebunan Nusantara Grup yaitu Introduksi Dan Pengujian Lanjutan Komponen Bahan Tanam Unggul Untuk Optimalisasi Produksi Kopi Arabika Java Coffee di PTPN XII.

    Apresiasi disampaikan oleh Asisten Deputi Bidang Industri Perkebunan dan Kehutanan Kementerian BUMN, Rachman Ferry Isfianto kepada para peneliti terbaik PT. RPN yang telah berupaya melakukan riset dan pengembangan yang telah dilakukan oleh PTPN Grup. “Kita yakin bahwa riset perkebunan ini akan bermanfaat utk PTPN dalam menjawab tantangan membuka lahan baru sebagai food estate dan untuk meningkatkan produktivitas, kualitas dan keberlanjutan dari inti bisnis PTPN”.

  • EKSPOSE HASIL RISET UNGGULAN DAN GELAR TEKNOLOGI PT RISET PERKEBUNAN NUSANTARA

    Perkebunan mempunyai peranan yang penting dan strategis dalam pembangunan nasional, terutama dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat, penerimaan devisa negara, penyediaan lapangan kerja, perolehan nilai tambah dan daya saing, pemenuhan kebutuhan konsumsi dalam negeri, bahan baku industri dalam negeri serta optimalisasi pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan.

    Dalam mendukung peranan tersebut, salah satu upaya yang dilakukan PT RPN yaitu berfokus pada bidang penelitian yang dapat dijadikan hal utama untuk mendukung Operational excellence untuk mencapai sasaran kinerja Perusahaan dan keberlanjutan bisnis PTPN Grup termasuk
    PT RPN. Tentunya dalam pelaksanaan hal tersebut tidak lepas dari dukungan Holding PTPN III (Persero) yang berkomitmen memberikan pendanaan kegiatan riset yang sudah dilakukan sejak tahun 2022.  Melalui pendanaan tersebut, terdapat 17 riset yang dihasilkan dan beberapa telah memasuki tahap akhir, sehingga untuk pemaparan hasil dan kemajuan dari 17 riset tersebut dilakukan pada kegiatan Ekspose Hasil Riset Unggulan sekaligus Gelar Teknologi Hasil Penelitian yang dilaksanakan selama dua hari yaitu pada 21 s.d. 22 November 2023 bertempat di Gedung Agro Plaza Lt. 18.

    Acara tersebut dilaksanakan secara Hybrid dan dihadiri sejumlah 220 undangan dari berbagai entitas perusahaan baik secara online maupun offline. Dalam acara ini hadir secara offline Asisten Deputi (Asdep) Industri Perkebunan dan Kehutanan Kementerian BUMN, Bapak Rachman Ferry Isfianto; Direktur Utama Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero), Bapak Mohammad Abdul Ghani, Komisaris Utama PT RPN, Bapak Sjukrianto Yulia; Jajaran Board of Advisory IPI, Bapak Joefly Joesoef Bahroeny dan Bapak Firdaus Ali; serta Direktur PTPN IV, Bapak Sucipto Prayitno.  

    Adapun rangkaian acara hari pertama pada 21 November 2023 yaitu penandatanganan Surat Perjanjian Kerja Sama (SPK) dan launching produk teknologi Nusaklim, yakni peranti stasiun deteksi iklim otomatis, NusaGis (layanan pemetaan lahan), dan OPA (Oil Palm Assistant), dan rangkaian acara hari kedua pada 22 November 2023 yaitu pemaparan 17 hasil riset unggulan PTPN Grup yang disampaikan oleh peneliti-peneliti terbaik PT RPN.

     “Acara Ekspose hasil riset unggulan dan gelar teknologi PT Riset Perkebunan Nusantara ini merupakan ajang yang baik bagi peserta untuk saling bertukar informasi dan berdiskusi mengenai kemajuan kegiatan riset yang dilakukan oleh PT Riset Perkebunan Nusantara, di antaranya dalam kerjasamanya dengan PT Perkebunan Nusantara Group, Selain itu, acara ini merupakan kesempatan yang baik bagi para peserta untuk berdiskusi mengenai kebutuhan riset yang diperlukan oleh para pemangku kepentingan industri perkebunan” Ungkap Direktur Utama Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero) dalam sambutan saat pembukaan acara.

    Hal tersebut sejalan dengan Welcoming Speech Direktur PT RPN, Iman Yani Harahap yang berharap dalam kegiatan ini akan banyak sekali wawasan yang berharga yang akan membantu siapa saja dalam pengambilan keputusan dan perencanaan berbasis riset di masa depan.

    Dalam kesempatan yang sama, Asisten Deputi Bidang Industri Perkebunan dan Kehutanan Kementerian BUMN, Rachman Ferry Isfianto, mengapresiasi upaya riset dan pengembangan yang telah dilakukan PTPN Group. “Kita yakin bahwa riset perkebunan ini akan bermanfaat untuk kita semua,” ujarnya.

    Ferry berharap, dengan berbagai upaya yang telah dan akan dilakukan manajemen perusahaan, performa PTPN Group ke depan bisa terus meningkat dan tumbuh berkelanjutan. “Kita punya tantangan untuk membuka lahan baru sebagai food estate, dan ini bagian dari yang dulunya hutan. Oleh karena itu, terus tingkatkan produktivitas, kualitas, dan keberlanjutan dari inti bisnis PTPN,” imbuhnya.

    PT Riset Perkebunan Nusantara mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi sehingga acara “Ekspose Hasil Riste Unggulan dan Gelar Teknologi PT RPN” berjalan dengan sebaik-baiknya dan harapannya dapat membawa manfaat bagi PTPN Group, Negara dan Masyarakat.

    Keterangan Lebih Lanjut:

    Syahrizani Sidadolog

    Divisi Sekretariat

    PT Riset Perkebunan Nusantara

    Ponsel: +6285361031099

  • Proses pembentukan senyawa aroma pada kakao

    Proses pembentukan senyawa aroma pada kakao

    Pembentukan senyawa aroma melalui proses fermentasi pada biji kakao diawali dengan pemecahan atau penguraian substrat pada biji kakao. Biji kakao segar mengandung lemak 50%, senyawa fenolik 15%, protein 12 %, pati 5%, alkaloid 3% dan sukrosa 2%. Selama proses fermentasi komposisi senyawa fenolik, protein, pati dan sukrosa akan berubah sehingga pada kondisi akhir biji setelah fermentasi dan pengeringan akan dihasilkan komposisi lemak 50%, Senyawa fenolik 3%, asam amino, peptida, alkaloid 3%, gula reduksi, asam organik 2%. Asam amino dan gula-gula pereduksi dapat saling bereaksi menghasilkan senyawa baru yang juga berkontribusi terhadap aroma diantaranya adalah pirazin yang dihasilkan melalui reaksi degradasi strecker. Jalur sintesis senyawa aroma dari substrat pada biji kakao diperlihatkan pada Gambar 1, dimana tahapan tersebut diantaranya meliputi:

    Gambar 1. Jalur sintesis senyawa aroma

    1. Proteolysis, penguraian protein yang dapat memicu pembentukan aroma-aroma hasil reaksi Maillard. Reaksi Maillard mereaksikan substrat asam amino dan gula reduksi untuk menghasilkan aroma dengan bantuan induksi panas (penyangraian) pada suhu mulai 140 C menurut reaksi berikut:

    Gambar 2. Pembentukan aroma melalui reaksi Maillard

    • Hydrolisis, penguraian senyawa karbohidrat yang untuk menghasilkan gula sederhana yang dapat mengalami karamelisasi melalui induksi panas (penyangraian) pada suhu mulai 160 C  dan timbul sebagai senyawa aroma seperti furanone melalui reaksi aldol dan furfural melalui dehidrasi. Mekanisme reaksi pembentukan aroma tersebut sebagai berikut:

    Gambar 3. Pembentukan aroma melalui karamelisasi

    • Lypolisis, penguraian komponen asam lemak yang dapat bereaksi membentuk senyawa aroma melalui induksi panas (penyangraian) misalnya heksanal, asam malonat dan sebagainya

    Gambar 4. Pembentukan aroma melalui penguraian asam lemak

    Senyawa pembentuk aroma (prekursor aroma) terbentuk melalui perlakuan fermentasi sempurna, namum pembentukan prekursor aroma ini juga simultan terjadi selama proses pengeringan dan muncul sebagai aroma saat penyangraian biji yang umumnya menggunakan suhu yang lebih tinggi dibandingkan dengan suhu pada proses fermentasi. Sehingga, proses fermentasi mendorong timbulnya prekursor aroma cokelat yang akan muncul sebagai aroma pada produk akhir olahannya. Perbedaan jenis mikroorganisme yang digunakan dalam proses fermentasi akan sangat mempengaruhi jenis prekursor aroma misalnya perbedaan komposisi asam lemak, jenis asam amino dan asam-asam organik yang dihasilkan sehingga menghasilkan aroma yang beragam.

    Gambar 5. Cara Fermentasi Kakao

    Tabel 1. Profil aroma senyawa volatil pada biji kakao

    Jenis hidrokarbonSenyawa volatilDeskripsi aroma
    Aldehid2-Metil propanalChocolaty
     3-Metil butanalChocolaty, malt
     2-Metil butanalChocolaty, almond
     2-fenil-2-butenal 
     5-metil-2-fenil-2-heksenal 
     BenzaldehidBitter, almond like
    AlkoholEtanol 
     2-pentanol 
     3-metil butanol 
     2-metil butanol 
     1,3-butandiolSweet, flowery
     2,3-butandiolSweet, flowery
     2-heptanol 
     Benzen etanol 
    EsterMetil asetat 
     Etil asetat 
     1-metil butil asetat 
     3-metil butil asetat 
     2-metil butil asetat 
     2-fenil etil asetatFruity, sweet, flowery
    Keton3-hidroksi-2-butanonButtery, creamy
     2-heptanonBanana-like, sruity
     AsetofenonPungent, Sweet
    Pirazin2,5-dimetil pirazinPop corn
     2,3-dimetil pirazinHazelnut, roasted bake
     2-etil-6-metil pirazin 
     Trimetil pirazin 
     2,5-dimetil-3-etil pirazin 
     Tertametil pirazinKopi, koka, roasted
     2,3,5-trimetil pirazin-6-etil pirazinHazelnut, roasted
    AcidAsam asetatSour
     Asam 3-metil butanoatUnpleasant cheese
     Asam 2-metil butanoatSweaty
    Furan & Pyrol5-metil furfuralPopcorn-like, musty
     2-asetil pirolCoumarine-like

    Ditulis oleh : Hendy Firmanto

  • Disbun Provinsi Kaltim bersama Puslitkoka mengadakan kegiatan Bimbingan Teknis Pembinaan Pascapanen Kakao di Kecamatan Danau Redan, Kabupaten Kutai Timur, Provinsi Kalimantan Timur

    Dinas Perkebunan Provinsi Kaltim bersama Puslitkoka mengadakan kegiatan Bimbingan Teknis Pembinaan Pascapanen Kakao di Kecamatan Danau Redan, Kabupaten Kutai Timur, Provinsi Kalimantan Timur pada 2-3 Februari 2022. Kegiatan tersebut diikuti oleh 15 peserta petani kakao. Tujuan pelatihan untuk memberikan materi serta praktek dalam pengolahan pascapanen dan penentuan mutu fisik kakao.

    Bimbingan Teknis dari Puslitkoka disampaikan oleh Hendy Firmanto, S.T., M.Sc. Materi yang disampaikan antara lain : pengolahan hulu dan hilir, praktikum uji mutu fisik dan praktik pembuatan minuman cokelat. Selain itu peserta juga mendapatkan materi terkait Budidaya Kakao oleh pemateri lainnya. Harapannya kegiatan ini dapat bermanfaat bagi para petani kakao khususnya di Kecamatan Danau Redan, Kabupaten Kutai Timur, Provinsi Kalimantan Timur sehingga dapat meningkatkan mutu biji kakao maupun olahannya.

  • Puslitkoka, FIT Canada, dan Lestari bersinergi untuk menyelenggarakan Temu Lapang Kopi dengan tema “Sistem pertanaman kopi Cerdas Iklim dan Ramah Gender”

    Pengembangan kopi di daerah Sulawesi Selatan, khususnya Tana Toraja, Enrekang, dan Toraja Utara saat ini terus dilakukan untuk meningkatkan keberlanjutan produksi kopi nasional. Kolaborasi Puslitkoka, Lestari, dan FIT Canada menghasilkan kegiatan Temu Lapang Kopi bertajuk “Sistem Pertanaman Kopi Cerdas Iklim dan Ramah Gender” pada tanggal 9 Februari 2022. Temu Lapang ini diadakan dalam rangka untuk diseminasi inovasi teknologi perkopian pada pelaku usaha kopi. Kegiatan ini dihadiri oleh Haris Paridi sebagai Asisten Ekonomi Pembangunan mewakili Bupati Tana Toraja, Darmawan selaku Direktur Politani Negeri Pangkajene Kepulauan, Kabid. Perkebunan Dinas Pertanian Kabupaten Tana Toraja, Fitria Yuliasmara, Diany Faila S. H., Novie Pranata E. selaku Peneliti Puslitkoka, Rahman Dako dan Riniaty Liku Bulawan dari Persippi, Ophier Sumule selaku Akademisi Universitas Hasanuddin, Koordinator BPP Gandangbatu Sillanan,
    Tim Konsorsium Adaptasi Perubahan Iklim dan Lingkungan (KAPABEL),
    Penyuluh Pertanian UPT BPSDMP propinsi Sulawesi Selatan, Ketua Koperasi Petani KOPINTA, Ketua KUB Sarong Samaturu dan 50 petani kopi di daerah tersebut. Harapan dari kegiatan ini diantaranya adalah untuk memperkuat jejaring antar stakeholder perkopian di daerah sehingga dapat memperkuat citra kopi Indonesia, khususnya Toraja.

    kopi #temulapang #nusantara #Toraja

  • TANAMAN PENANUNG KOPI DAN KAKAO

    Oleh : Fakhrusy Zakariyya & Hanifah Salsabila Shofia

    Tanaman penaung merupakan tanaman yang sengaja ditanam untuk menaungi tanaman budidaya dari energi matahari yang berlebih. Tanaman kopi dan kakao, sebagai tanaman C3, naungan dibutuhkan untuk mengontrol laju fotorespirasi agar efisiensi fotosintesis lebih maksimal. Tanaman penaung pada perkebunan kopi dan kakao juga ditanam sebagai penyangga (buffer) lingkungan yang kurang sesuai bagi tanaman budidaya, sehingga iklim mikro akan lebih optimal. Tanaman penaung dapat menahan laju intensitas cahaya matahari, membatasi rentang yang jauh antara suhu siang dan malam, menahan angin dan mencegah erosi.

    Tanaman penaung dapat dibedakan menjadi penaung sementara dan penaung tetap. Penaung sementara digunakan pada awal pertumbuhan tanaman untuk memberikan naungan pada tanaman sebelum penaung tetap berfungsi dengan baik. Kebutuhan tingkat penaung tanaman kopi dan kakao ditentukan oleh beberapa hal seperti umur tanaman, populasi dan tingkat kesuburan tanah. Penaung sementara digunakan pada tanaman kakao umur 2-3 tahun yang membutuhkan naungan cukup kemudian kebutuhan akan penaung akan menurun setelah umur tersebut sehingga digunakan penaung tetap yang berupa tanaman pohon. Begitu pula pada tanaman kopi yang menggunakan penaung sementara pada awal penanaman dan kemudian digantikan dengan penaung tetap.

    Syarat utama tanaman yang bisa digunakan sebagai penaung yaitu dapat meneruskan cahaya difus, daun tanaman tidak gugur di musim kemarau, memiliki akar yang dalam, apabila daun dipangkas dapat tumbuh kembali dengan cepat, tidak bersifat alelopatik, dan tidak sebagai inang hama dan penyakit tanaman budidaya. Pemilihan pohon penaung pertama didasarkan pada arsitektur tajuk tanaman. Tanaman penaung dengan tajuk terbuka dapat menyebabkan distribusi sinar matahari yang diteruskan ke tanaman budidaya menjadi lebih besar sehingga meningkatkan evapotranspirasi dan mengganggu pertumbuhan tanaman. Akan tetapi, tanaman penaung yang terlalu lebat dapat menghambat fotosintesis. Beberapa jenis tanaman penaung yang dapat digunakan seperti lamtoro (Leucaena glauca), krete (Cassia surattensis), Gamal (Gliricidia), dadap (Erythrina subumbrans), dan sengon (Albizzia falcata dan Albizzia sumatrana).

    Salah satu tanaman yang dapat digunakan sebagai penaung yaitu tanaman lamtoro (Leucaena sp.). Pohon lamtoro mempunyai batang yang kuat sehingga tidak mudah patah. Lamtoro sering dimanfaatkan sebagai tanaman peneduh karena memiliki daun yang kecil serta percabangan yang mudah diatur. Pohon lamtoro sebagai penaung dapat menjadi pengatur iklim mikro lingkungan. Kajian Pusat Penelitian Kopi dan Kakao menunjukkan bahwa naungan pohon lamtoro memberikan hasil terbaik pada tanaman kakao dibandingkan dengan naungan jati dan krete. Kakao yang ditanam di bawah lamtoro memiliki daun yang lebih tipis dan lebar karena persentase naungan lamtoro yang cukup tinggi (60%) dibandingkan naungan lainnya. Selain itu, daun tanaman kakao di bawah naungan lamtoro memiliki kandungan nitrogen yang tinggi karena lamtoro merupakan tanaman legum sehingga tanaman kakao dapat menyerap nitrogen lebih baik. Jenis lamtoro yang dikembangkan oleh Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia adalah lamtoro L2 yang cocok untuk dataran rendah. Keunggulan jenis ini adalah tidak menghasilkan biji sehingga tidak menimbulkan masalah gulma bagi pertanaman kopi dan kakao.Jenis L2 dapat diperbanyak secara vegetatif, baik cangkok atupun stump (“Stela – Stump Lamtoro”). Masing-masing perbanyakan memiliki kelebihan dan kekurangan. Lamtoro L2 yang diperbanyak dengan cangkok memiliki keunggulan lebih cepat tumbuh dan berfungsi sebagai pohon penaung, namun distribusi lebih sulit dan mahal karena volume yang relatif besar. Di sisi lain, stump lamtoro berfungsi sebagai penaung akan lebih lambat dibandingkan cangkok (persiapan lahan 8 – 12 bulan sebelumnya), namun, mudah dalam proses pengemasan dan didistribusi karena volume yang relatif lebih kecil.

  • COFFEE ROASTING : Pintu Gerbang Produk Olahan Kopi

    Oleh : Rizky Wiradinata

    Sumber foto : Tim Media Sosial Puslitkoka

    Penyangraian adalah perpaduan antara suhu dan waktu untuk mengubah struktur dan sifat kimia dengan perlakukan panas yang bertujuan untuk membentuk aroma dan citarasa yang khas pada kopi seduhan. Pada proses penyangraian terjadi pengurangan kadar air yang disertai dengan penguapan senyawa volatil yang terkadung dalam biji kopi, sehingga ketika proses sangrai berlangsung akan tercium harumnya aroma kopi sangrai. Faktor penentu keberhasilan proses penyangraian kopi antara lain adalah waktu, suhu, mesin dan operator sangrai.

    Sumber foto : Bayu Setyo A

    Secara umum tingkat penyangraiaan biji kopi terbagi menjadi ringan (light), menengah (medium)  dan gelap (dark). Namun seiring dengan berjalannya waktu dikenal juga istilah light to medium (diantara ringan dan menengah), medium to dark (diantara menengah dan gelap) dan Burn (lewat gelap sehingga keluar minyak dari permukaan biji kopi sangrai).

    Penyangraian merupakan langkah awal dalam pengolahan hilir kopi, hampir semua produk olahan kopi dibuat dari kopi sangrai. Kopi sangrai pun telah memiliki nilai jual, namun perlu diperhatikan bahwa kopi sangrai rentang untuk kehilangan aroma karena adanya penguapan senyawa volatil selama dan setelah proses penyangraian. Macam-macam produk olahan kopi yang berawal dari kopi sangrai adalah kopi bubuk, kopi instan, kopi siap minum dan kopi campuran. Kopi bubuk (Ground Coffee) yang dijual dimasyarakat merupakan kopi sangrai yang telah mengalami pengecilan ukuran (grinding). Kopi instan (Soluble coffee) terbuat dari kopi sangrai yang telah diekstrak, selanjutnya dikeringkan menggunakan metode freeze dried atau spray dried. Kopi siap minum adalah minuman yang dari konsentrat kopi sangrai yang dibuat menggunakan metode Integrated Extraction System dan hasil akhirnya dikemas menggunakan botol plastik, kemasan PET atau kemasan kaleng. Kopi campuran adalah minuman yang terbuat dari seduhan kopi yang dicampur dengan berbagai macam bahan antara lain susu, krim, cokelat dan lain sebagainya. Terdapat banyak macam produk kopi campuran diseluruh dunia antara lain adalah capucino, mochacino, latte, herbal coffee, long black (americano), red eye, irish coffee, dan lain sebagainya.

  • Press Release Holistic Coffee Expo 2021

    Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (Puslitkoka) bersama Pemerintah Kabupaten Jember, Bank Indonesia Kantor Perwakilan Jember, serta didukung oleh International Coffee Organization (ICO) dalam penyelenggaraan Holistic Coffee Expo (HCE) 2021. HCE merupakan acara tahunan yang pertama kali diselenggarakan pada tahun 2020. Acara HCE
    tahun 2020 sukses dihadiri oleh 16 narasumber, diikuti lebih dari 2000 peserta, dan didukung berbagai stakeholder seperti; pemerintah, LSM, industri, akademisi, petani, traders, pelaku kopi baik café, dan UMKM. Keberhasilan HCE 2020 telah menarik perhatian masyarakat terhadap kopi khususnya dalam wilayah Sekarkijang (Sekaresidenan eks Besuki dan Lumajang) melalui berbagai acara seperti webinar, live auction, coffee talk, dan virtual business matching. HCE 2021 merupakan event tahun kedua dengan tema “Bangga Kopi Nusantara” yang bertujuan untuk menumbuhkembangkan kecintaan masyarakat terhadap kopi Nusantara dan upaya untuk meningkatkan konsumsi kopi nasional. Selain itu, HCE juga memberikan dukungan kepada pemerintah kabupaten Jember untuk mendukung Jember sebagai “Pusat Kopi Robusta Terbaik di Indonesia”. Penyelenggaraan HCE 2021 dilakukan secara Hybrid (Daring dan Luring) selama bulan Desember yang mencakup tiga aspek sudut pandang kopi yaitu bisnis, budaya dan kesehatan. Rangkaian HCE 2021 akan dibuka oleh Bupati Jember, Bank Indonesia Kantor Perwakilan Jember, Direktur PT. Riset Perkebunan Nusantara, Kepala Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia serta Executive Director International Coffee Organization (ICO) pada tanggal 1 Desember 2021 secara daring. Serangkaian kegiatan HCE 2021 antara lain:

    1. Focus Group Discussion (FGD) “Peningkatan Konsumsi Kopi Nasional” – 1 Desember 2021.
    2. Talkshow Kopi bagi Kesehatan yang bertujuan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai manfaat kopi. – 1 Desember 2021.
    3. Focus Group Discussion (FGD) dengan tema dan “Produksi Kopi Berkelanjutan” – 7 Desember 2021.
    4. “Wes Wayahe Ngopi Bareng” bersama Bupati Jember. Kegiatan Wes Wayahe Ngopi Bareng dilaksanakan untuk mensosialisasikan gerakan minum kopi yang diikuti oleh
      seluruh masyarakat Jember. – 9 Desember 2021.
    5. Business Matching – 14 Desember 2021
    6. Penyisihan “HCE Manual Brewing V60 Competition” – 6 Desember
    7. Final Manual Coffee Brewing V60 – 9 Desember 2021.
    8. Fun Cupping & Live Auction yang akan dilakukan secara daring melalui platform coffeehub.id. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi pemantik untuk meningkatkan perekonomian UMKM dan peningkatan konsumsi kopi masyarakat. – 15 Desember 2021.
    9. Puncak acara HCE 2021 akan dilaksanakan secara virtual pada tanggal 16 Desember 2021 melalui kegiatan Ngopi Bereng Kopi Nusantara yang akan diikuti oleh beberapa petani kopi
      dari berbagai sentra produksi kopi arabika dan robusta, seperti Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jambi, Jawa Barat, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Bali, Nusa Tenggara Timur, dan Papua. Dengan dilaksanakannya “Ngopi Bareng Kopi Nusantara” diharapkan dapat merepresentasikan mengenai keberagaman kopi Indonesia dan budaya di masing-masing
      daerah. Melalui acara HCE 2021, diharapkan dapat memperkenalkan beragam kopi nusantara dan mengedukasi masyarakat terkait kopi, sehingga dapat meningkatkan konsumsi kopi dan perekonomian nasional.
    10. Informasi mengenai Holistic Coffee Expo 2021 dapat diakses melalui laman:
      www.iccri.net/hce-2021
      www.coffeehub.id
      Humas Holistic Coffee Expo 2021
      Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia
  • KOPI KOMASTI, Primadona Baru Bahan Tanam Kopi Arabika

    KOPI KOMASTI, Primadona Baru Bahan Tanam Kopi Arabika

    Oleh: Ari Wibowo

    Ngopi sudah menjadi tren gaya hidup anak-anak muda jaman sekarang untuk sekedar bercengkerama dengan teman sejawat atau melakukan pembicaraan santai dengan rekan kerja. Tingkat konsumsi kopi di Indonesia pun mengalami kenaikan sekitar 7,7% per tahun dalam kurun waktu 2015 – 2019. Saat ini, Indonesia masih menempati urutan keempat sebagai produsen kopi dengan proporsi 6,10% dari total produksi kopi dunia dibawah Brasil, Vietnam, dan Kolombia (USDA, 2021)[1].  Melihat peluang pasar kopi yang masih besar maka peningkatan produksi kopi perlu dilakukan.

    Kopi Arabika mempunyai nilai ekonomi tinggi dan mendominasi pasaran kopi dunia sehingga peluang ekspor masih sangat terbuka. Bahan tanam unggul merupakan faktor penting dalam peningkatan produksi kopi. Komasti merupakan varietas bahan tanam unggul baru kopi Arabika yang telah dilepas oleh Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia pada tahun 2013. Varietas ini mempunyai potensi hasil mencapai ±2,1 ton greenbean per hektar dengan populasi 2.000 tanaman, tentu dengan perawatan yang intensif.

    Pak Badi, seorang petani kopi Arabika di lereng Gunung Wilis – Jawa Timur menyebutkan bahwa varietas Komasti mempunyai buah besar dan cepat berbuah. Anggota kelompok tani Sumber Makmur 2 ini menuturkan bahwa pada tahun kedua, kopi Komasti sudah belajar berbuah dan di tahun ketiga, panen buah sudah mencapai ±1 ton gelondong per 2.000 tanaman. Produksi buah kopi akan semakin meningkat seiring dengan bertambahnya umur tanaman. Kelompok tani ini mendapatkan bibit Komasti dari bantuan Dinas Pertanian Tulungagung, Jawa Timur. Petani kopi lain yang berada di Desa Sumberbening, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur juga mengungkapkan hal yang sama. Kopi Arabika Komasti mempunyai keunggulan cepat berbuah, buah besar dan padat serta bercitarasa excellent, bahkan hasil kopi Komasti dari desa Sumberbening sempat dinobatkan sebagai juara 1 kopi bercitarasa terbaik se-Kabupaten Trenggalek dengan nama “Kopi Sengungklung” dalam acara GEBYAR KOPI tahun 2020. Produktivitas yang tinggi (±1,8 ton biji/ha) serta tahan terhadap penyakit karat daun merupakan faktor terpenting yang menjadi acuan petani memilih kopi Komasti sebagai varietas unggul yang ditanam.

    Saat ini, kopi Komasti sudah mulai tersebar di beberapa wilayah Indonesia, bahkan di Sumatera Utara sudah terdapat beberapa demoplot kopi Komasti yang ditanam oleh kelompok-kelompok tani di daerah tersebut. Hadirnya varietas kopi Komasti membawa angin segar bagi petani kopi Arabika Indonesia. Upaya untuk meningkatkan hasil kopi tentu bukan menjadi perkara yang sulit lagi. Ditambah lagi, pemerintah pusat maupun daerah terus mendukung program perluasan pertanaman dan produksi kopi nasional. Puslitkoka selalu hadir dalam menunjang peningkatan produksi kopi Indonesia dengan mengeluarkan bahan tanam unggul. Mari gunakan varietas unggul bersertifikat demi peningkatan pendapatan petani.

    Foto: Dokumentasi Dr. Retno Hulupi


    [1]  United Stated Department of Agriculture (USDA), 2021