Category: Dunia Perkebunan

Berita seputar perkebunan lingkup PT. RPN

  • Sugarex Indonesia 2025: PT RPN melalui P3GI Tampilkan Inovasi Industri Gula di Ajang Pameran Internasional

    SURABAYA – Pameran gula internasional Sugarex Indonesia 2025 kembali digelar di Dyandra Convention Centre Surabaya pada 12–13 November 2025. Ajang bertaraf global yang dihadiri delegasi dari berbagai negara termasuk India, Australia, dan Spanyol ini menjadi momentum penting bagi PT Riset Perkebunan Nusantara (RPN) untuk menampilkan terobosan terbaru dalam industri gula dan perkebunan.


    Kehadiran booth RPN melalui P3GI sukses menarik perhatian pengunjung lewat kolaborasi strategis bersama PT Equiva Ligand Indonesia, distributor resmi Sucromat dan Refraktometer Indonesia. Sebagai mitra utama, perusahaan pemasok alat laboratorium terbesar di Indonesia pada bidang alat ukur industri makanan minuman ini mendukung demonstrasi teknologi analisis modern secara langsung.

    Pengunjung dapat menyaksikan demo penggunaan alat laboratorium berkualitas tinggi milik PT Equiva Ligand Indonesia yang menggunakan bahan analisis dari P3GI. Respons positif pun mengalir deras dari para pengunjung yang menilai teknologi tersebut sangat relevan bagi laboratorium besar yang ingin menerapkan proses analisis dan terstandarisasi.

    Selain menampilkan terknologi analisis, P3GI juga memperkuat sisi edukasi industri dengan menghadirkan Kepala Bagian Usaha P3GI, Risvan Kuswurjanto, sebagai pembicara dihari pertama pameran melalui sesi yang bertajuk: “The Role of Smart Agriculture In Accelerating Indonesia’s Sugar Self-Sufficiency Goals”.

    “Kami ingin menunjukkan bahwa riset yang tepat dapat mempercepat langkah menuju swasembada gula,” ujarnya saat pemaparan.

    Selama pameran, P3GI menampilkan berbagai produk unggulan bahan tanam seperti bibit tebu, lonjoran, dan budset. Produk nonbahan tanam juga ditampilkan, termasuk clearpol, penapol, Fondanseed, serta berbagai layanan pelatihan, analisis laboratorium, kalibrasi, dan wisata edukasi. Salah satu yang daya tarik utama bagi penunjung adalah Segarcane, minuman sari tebu alami hasil riset P3GI, yang dibagikan gratis kepada pengunjung.


    “melalui pameran ini, masyarakat dapat merasakan langsung kualitas produk tebu hasil penelitian kami,” ungkap salah satu perwakilan P3GI kepada pengunjung.

    Keikutsertaan P3GI dalam Sugarex Indonesia 2025 tidak hanya bertujuan memperkenalkan produk dan teknologi terbaru, tetapi juga menjadi langkah strategis untuk memperkuat kolaborasi dengan pelaku industri, lembaga penelitian, hingga calon mitra internasional.

    Melalui pameran bertaraf global ini, diharapkan terbuka peluang riset bersama, memperluas teknologi pergulaan modern, serta mendorong lahirnya inovasi hilir yang lebih kompetitif. Upaya ini sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu negara yang berpotensi besar dalam pengembangan komoditas tebu dan produk turunannya.

    Keterangan Lebih Lanjut:
    Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia
    PT Riset Perkebunan Nusantara
    Ponsel: 0811-1380-3523
    Email: rpn@rpn.co.id

  • PPKKI – PT RPN Terima Kunjungan Kerja Bupati Berau Penandatanganan MoU Pengembangan Kakao Daerah di Kalimantan Timur

    Jember, 28 Oktober 2025, Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (PPKKI), PT Riset Perkebunan Nusanatara, menerima kunjungan kerja Pemerintah Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur, dalam rangka penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) terkait pengembangan komoditas kakao di wilayah tersebut.


    Kunjungan kerja tersebut dipimpin oleh Bupati Berau, Hj. Sri Juniarsih Mas, M.Pd, beserta jajaran perangkat daerah, kepala dinas terkait, camat, serta perwakilan perusahaan swasta yang bergerak di bidang kakao. Rombongan diterima oleh Dini Astika Sari, M.Biotech, Kepala PPKKI, bersama jajaran pimpinan PPKKI.

    Penandatanganan MoU ini menjadi langkah strategis untuk mendorong penguatan sektor kakao daerah melalui penerapan hasil riset, peningkatan kapasitas petani, dan pengembangan rantai nilai kakao berkelanjutan.

    Selain Penandatanganan MoU, rombongan meninjau fasilitas PPKKI, antara lain: kebun produksi Kaliwining, CocoPark eduwisata berbasis IPTEK, workshop alat pascapanen, unit pengolahan hilir, dan Outlet Kopi dan Kakao yang menampilkan inovasi produk kopi dan cokelat.

    PPKKI terus menghadirkan teknologi inovatif yang telah diadopsi pemerintah daerah untuk memperkuat ekonomi perkebunan kopi dan kakao. Kolaborasi dengan Pemkab Berau diharapkan memperkuat sinergi antara pemerintah, lembaga riset, dan industri, menuju kakao Indonesia yang unggul, kompetitif, dan berkelanjutan.

    Puslitkoka Hadir untuk Indonesia

    Keterangan Lebih Lanjut:
    Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia
    PT Riset Perkebunan Nusantara
    Ponsel: (0331) 757130, 757132
    Email: iccri@iccri.net

  • PT RPN Inkubasi 28 Produk Perkebunan Unggulan 2023–2025: Siap Dorong Hilirisasi dan Daya Saing Nasional

    Bogor, 28 Oktober 2025 – PT Riset Perkebunan Nusantara (RPN), anak perusahaan Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero), menegaskan komitmennya untuk memperkuat perannya dalam mendorong hilirisasi komoditas perkebunan nasional. Melalui konferensi pers yang digelar di Kantor Direksi PT RPN, Bogor Selasa (28/10), RPN mengumumkan keberhasilan mengembangkan 28 produk riset unggulan sepanjang 2023–2025 yang siap menuju tahap komersialisasi.


    Direktur PT RPN, Dr. Iman Yani Harahap, menjelaskan bahwa inovasi terbagi dalam enam kategori utama. Pemuliaan dan bioteknologi tanaman mendominasi dengan 15 produk, termasuk klon unggul kelapa sawit Nusaklon 1 dan 2, varietas tebu PS 08, klon kakao Monika 01 dan 02, serta klon karet IRR 309 dan IRR 310.


    Tak hanya itu, RPN juga mencetak inovasi di bidang mekanisasi dan otomasi dengan produk Digiteks dan Digimost; pangan dan energi seperti minyak makan merah dan specialty tea Gambung; lingkungan dan dekarbonisasi dengan Vulkasol dan Lead Rubber Bearing; serta aplikasi digital berbasis teknologi, termasuk e-Hara, Nusaklim, dan OPA (Oil Palm Assistant).

    “Capaian ini membuktikan bahwa riset perkebunan Indonesia tidak berhenti di laboratorium, tetapi diarahkan agar mampu memberi nilai tambah dan meningkatkan daya saing di pasar global,” tegas Iman.


    Lebih lanjut, Iman mengungkapkan bahwa RPN saat ini juga tengah mengembangkan produk baru, antara lain Biodiesel B50, Palm Vision, Rubber Seal, dan Rubber Flooring. Sepanjang 2021–2025, perusahaan telah mengantongi 103 Hak Kekayaan Intelektual (HAKI), mulai dari paten, merek dagang, hingga perlindungan varietas tanaman.


    Sebagai lembaga riset hasil transformasi Lembaga Riset Perkebunan Indonesia (LRPI), RPN menjalankan fungsi riset, pengembangan, dan layanan untuk mendukung industri perkebunan nasional, yang mengelola lima Pusat Penelitian dengan komoditas utama yaitu kelapa sawit, karet, teh dan kina, gula, kopi dan kakao serta didukung oleh 4.068 karyawan, termasuk 274 peneliti aktif.

    Selain menghasilkan produk inovatif, RPN juga turut berkontribusi dalam penyusunan kebijakan nasional. Sejak 2020-2025, RPN telah menerbitkan 31 naskah akademik yang mencakup tema hilirisasi perkebunan, ekonomi sirkular, hingga pembentukan Badan Pengelola Dana Komoditas Non-Sawit.

    PT RPN juga melayani berbagai segmen mitra, mulai dari PTPN Group, petani, swasta, hingga pemerintah. Layanan yang ditawarkan meliputi produk benih unggul dan pupuk, perusahaan juga menyediakan jasa sertifikasi ISPO, pengujian laboratorium terakreditasi KAN, serta pelatihan dan capacity building.
    Program hilirisasi perkebunan merupakan agenda strategis nasional untuk meningkatkan nilai tambah dan mengurangi ketergantungan pada ekspor bahan mentah. PT RPN turut mengambil peran dalam riset terapan dari hulu hingga hilir, untuk memastikan Indonesia unggul dalam industri perkebunan global.

    “Sebagai bagian dari ekosistem PTPN Group, RPN terus menegaskan posisinya sebagai pusat keunggulan perkebunan Indonesia. Inovasi riset, penyediaan benih unggul, dan kajian kebijakan yang kami lakukan diharapkan mampu mendongkrak kesejahteraan petani sekaligus memperkuat daya saing industri,” tutup Iman.

    Keterangan Lebih Lanjut:
    Divisi Sekretariat Perusahaan
    PT Riset Perkebunan Nusantara
    Ponsel: 0811-1380-3523
    Email: rpn@rpn.co.id

  • PT RPN Gelar Outlook Perkebunan 2026: Antisipasi Tantangan Global dan Dorong Hilirisasi Komoditas

    Bogor, 28 Oktober 2025 – PT Riset Perkebunan Nusantara (RPN) menggelar Outlook Komoditas Perkebunan 2026 di Aula PT RPN Bogor secara hybrid. Acara tahunan ini menjadi forum penting untuk memetakan tren produksi, harga, serta tantangan dan peluang sektor perkebunan Indonesia di tahun mendatang.
    Direktur PT RPN, Iman Yani Harahap, dalam sambutannya menekankan peran strategis perkebunan sebagai sumber devisa, penyerap tenaga kerja, dan penggerak ekonomi pedesaan.


    “Meski menjadi tulang punggung ekonomi, sektor ini masih menghadapi tantangan serius seperti perubahan iklim, fluktuasi harga, produktivitas yang belum optimal, dan tuntutan keberlanjutan dari pasar global,” ujarnya.

    Ia menambahkan, forum ini juga menjadi wadah kolaborasi bagi pemerintah, pelaku usaha, peneliti, dan masyarakat untuk merumuskan strategi bisnis yang adaptif dan berkelanjutan.


    Acara dihadiri perwakilan Kementerian, lembaga riset, perusahaan perkebunan negara dan swasta, perguruan tinggi, serta Forum Wartawan Pertanian, yang menunjukkan sinergi lintas sektor untuk kemajuan industri perkebunan nasional.


    Direktur Bisnis Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero), Ryanto Wisnuardhy, menekankan pentingnya keterlibatan seluruh pemangku kepentingan dari hulu hingga hilir.

    “Kalau semua stakeholder terlibat sejak hulu hingga hilir, sinergi ini bisa memperkuat ekonomi nasional,” tegas Ryanto, yang optimistis industri perkebunan tetap menjadi motor pertumbuhan ekonomi Indonesia.


    Sesi outlook menghadirkan lima narasumber yang merupakan peneliti dari Pusat Penelitian Lingkup PT RPN dengan komoditas utama: kelapa sawit, karet, teh dan kina, gula, serta kopi dan kakao. Tungkot Sipayung dari PASPI bertindak sebagai moderator sekaligus membuka diskusi tentang risiko global sektor perkebunan 2026. Fokus utama outlook tahun ini adalah peningkatan produktivitas melalui peremajaan tanaman dan benih unggul, penguatan hilirisasi untuk menambah nilai, serta penerapan prinsip keberlanjutan agar produk Indonesia makin diterima pasar global.

    Kelapa Sawit: Tantangan Tata Kelola dan Arah Perbaikan
    Indonesia sebagai produsen kelapa sawit terbesar dunia menghadapi tantangan dalam tata kelola lahan dan industri. Peneliti Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS), Rizki Amalia, menyebut isu utama meliputi legalitas lahan, penyelesaian sawit di kawasan hutan, dan penerapan standar keberlanjutan.
    Meski begitu, outlook sawit 2026 tetap positif. Produksi dan harga diperkirakan stabil, didorong program biodiesel B40 dan pemulihan ekonomi negara importir. Empat strategi utama yang direkomendasikan PPKS mencakup peningkatan produktivitas, diversifikasi pasar dan hilirisasi, perbaikan tata kelola berkelanjutan, serta efisiensi biaya untuk memperkuat daya saing.

    Karet: Produktivitas Turun, Pabrik Tutup
    Peneliti Pusat Penelitian Karet (PPK), Lina Fatayati Syarifa, menyampaikan kekhawatirannya atas menurunnya kinerja industri karet nasional.


    “Produktivitas karet kita terus turun dari tahun ke tahun, sementara negara kompetitor seperti Vietnam, India, dan Kamboja justru meningkat. Ini menunjukkan ada persoalan mendasar yang harus segera diatasi,” ujarnya.


    Penurunan produksi disebabkan tanaman tua, penyakit gugur daun, perubahan iklim, dan konversi lahan. Solusi jangka pendek meliputi pengendalian penyakit, subsidi pupuk, dan akses pembiayaan, sedankang jangka panjang menekankan peremajaan, hilirisasi, serta pembentukan Badan Karet Nasional.

    Teh: Perkuat Daya Saing Lewat Hilirisasi dan Inovasi
    Peneliti Pusat Penelitian Teh dan Kina (PPTK), Kralawi Sita, menyampaikan bahwa prospek teh Indonesia pada 2026 masih positif meski menghadapi tantangan seperti penurunan produksi dan persaingan global.


    “Nilai teh Indonesia kini tidak hanya ditentukan oleh harga, tetapi juga oleh kualitas, keberlanjutan, dan cerita di balik setiap proses produksinya,” ujarnya.

    Tren teh fungsional, matcha, dan kombucha membuka peluang besar untuk memperkuat pasar domestik dan ekspor. Revitalisasi teh bukan sekadar perbaikan di kebun, tetapi juga transformasi cara pandang terhadap teh sebagai produk budaya, ekonomi, dan lingkungan.

    Kopi dan Kakao: Harga Stabil, Hilirisasi Jadi Peluang
    Peneliti Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (PPKKI), Diany Faila, menyebut Prospek kedua komoditas ini tetap cerah meski menghadapi tantangan produktivitas dan sertifikasi berkelanjutan.

    “Konsumsi kopi global terus meningkat, ini peluang besar untuk ekspor kita,” jelasnya.


    Produksi kopi diperkirakan naik dengan harga robusta sekitar $4,2/kg dan arabika $7/kg, sementara kakao diproyeksikan stabil di $5–6/kg meski sempat menyentuh $12,9/kg awal tahun ini. Strategi ke depan menekankan pengembangan produk olahan, peremajaan tanaman, dan perluasan sertifikasi guna memperkuat daya saing kopi dan kakao Indonesia di pasar global.

    Gula: Produksi Naik, Harga Petani Turun
    Peneliti Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI), Danang Permadhi, menyebut produksi gula nasional diperkirakan meningkat dari 2,6 juta ton pada (2025) menjadi 2,8 juta ton (2026). Namun, kenaikan harga tidak diikuti perbaikan harga


    “Harga gula turun ke Rp14.500 per kilo, bahkan tetes tebu hanya Rp1.500 per kilo karena lemahnya permintaan,” ujarnya.

    Ia menyoroti dampak dari kemarau basah, menyebabkan kebun tergenang, menurunkan kualitas tebu dan meningkatkan biaya angkut. Sementara itu, kebijakan impor yang longgar dan dugaan kebocoran gula rafinasi memperburuk situasi. P3GI merekomendasikan evaluasi aturan impor, penguatan peran Bulog, pengawasan distribusi, serta membentuk badan khusus pengelola dana pengembangan tebu nasional.

    Sinergi untuk Masa Depan Perkebunan Indonesia
    Dengan berbagai paparan dari lima komoditas utama, Outlook Komoditas Perkebunan 2026 menegaskan bahwa sektor perkebunan Indonesia menghadapi tantangan sekaligus peluang besar. Peningkatan produktivitas, penguatan hilirisasi, dan penerapan prinsip keberlanjutan menjadi kunci agar komoditas nasional tidak hanya mampu bersaing di pasar global, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan jutaan keluarga petani.

    Forum ini sekaligus menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, peneliti, dan masyarakat dalam menyusun untuk membangun industri perkebunan yang tangguh, adaptif, dan berkelanjutan

    Keterangan Lebih Lanjut:
    Divisi Sekretariat Perusahaan
    PT Riset Perkebunan Nusantara
    Ponsel: 0811-1380-3523
    Email: rpn@rpn.co.id

  • Bersinergi untuk Masa Depan Sawit: Peran Strategis PT RPN dalam Menyatukan Riset, Regulasi, dan Inovasi Menuju Produktivitas dan Keberlanjutan Nasional

    Bogor, 24 Oktober 2025 – PT Riset Perkebunan Nusantara (PT RPN) memperkuat peran strategisnya dalam pengembangan industri kelapa sawit nasional melalui kolaborasi riset dan kebijakan publik. Bersama Badan Karantina Indonesia, PT RPN menyelenggarakan Talkshow Karantina Day 2025 bertema “Dari Karantina untuk Sawit Berkelanjutan: Mendukung Ketahanan Pangan dan Energi Indonesia” di IPB International Convention Center, Bogor.

    Kegiatan ini menghadirkan pelaku usaha, akademisi, peneliti, dan pemangku kepentingan sektor sawit. Diskusi berfokus pada peningkatan produktivitas, penguatan sistem biosekuriti, serta penerapan riset terapan untuk mendukung keberlanjutan industri sawit Indonesia.

    Edy Suprianto, Senior Executive Vice President Business Support PT RPN, menyampaikan apresiasi atas kemitraan strategis yang terbangun dengan berbagai lembaga, termasuk Badan Karantina Indonesia.

    “Kemitraan riset dan kebijakan merupakan kunci dalam memastikan keberlanjutan industri sawit Indonesia. Kolaborasi dengan Barantin ini menjadi langkah strategis untuk menjamin keamanan hayati sekaligus meningkatkan produktivitas dan efisiensi sektor perkebunan. Riset tidak bermakna tanpa regulasi yang kuat. Sebaliknya, regulasi lebih tajam jika dibangun atas basis data kuat. Di sinilah kolaborasi antara Badan Karantina Indonesia, Ditjen Perkebunan, BPDP, GAPKI, dan PT RPN menemukan relevansinya,” jelasnya.

    Sementara itu, Kepala Badan Karantina Indonesia Dr. Sahat M. Panggabean menegaskan bahwa kerja sama dengan lembaga riset seperti PT RPN sangat diperlukan untuk menjawab tantangan produktivitas.

    “Kolaborasi sudah tersusun dengan baik, lembaga riset ada, pendanaan ada, peneliti pakar. Namun kenyataannya, produktivitas kelapa sawit nasional baru sekitar 4 ton per hektare per satu tahun, padahal potensinya bisa 10 ton. Ada selisih 6 ton yang harus kita capai,” ujarnya tegas.


    Ia menambahkan, peningkatan produktivitas tidak hanya bergantung pada bibit unggul, tetapi juga pada pengelolaan tanah dan lingkungan yang berkelanjutan.

    “Kita punya varietas unggul, namun tanah dan tata kelola budidaya juga harus diperhatikan agar produktivitas dapat terus meningkat,” tambahnya.

    Talkshow menampilkan dua sesi paralel yang membahas kebijakan, strategi, dan implementasi riset sawit berkelanjutan. Sesi pertama berfokus pada arah kebijakan dan strategi nasional pengembangan industri sawit. Dalam sesi ini, para narasumber memaparkan berbagai perspektif kebijakan dan dukungan lintas sektor, antara lain:


    • Baginda Siagian (Direktorat Jenderal Perkebunan) yang membahas pengembangan industri sawit Indonesia yang berkelanjutan,
    • Antarjo Dikin (Deputi Bidang Karantina Tumbuhan) yang menjelaskan kebijakan dan regulasi karantina tumbuhan,
    • Dwi Asmono (Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia/GAPKI) yang menyoroti pentingnya biosekuriti sebagai fondasi keberlanjutan industri, serta
    • Arfie Thahar (Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit/BPDPKS) yang memaparkan dukungan pendanaan riset sawit melalui skema grant riset.

    Sesi kedua menitikberatkan pada penerapan hasil riset di lapangan. Dalam sesi ini, narasumber menyampaikan berbagai capaian dan inisiatif riset yang mendukung peningkatan produktivitas dan efisiensi sektor perkebunan, yaitu:
    • Edy Suprianto (PT RPN), yang menjelaskan progres eksplorasi Sumber Daya Genetik (SDG) kelapa sawit sebagai basis peningkatan produktivitas nasional,
    • Agus Eko Prasetyo dari Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) yang memaparkan perkembangan introduksi serangga penyerbuk asal Tanzania untuk memperkuat efisiensi penyerbukan, serta
    • Fitri Ujiyani (Direktorat Manajemen Risiko Karantina Tumbuhan) yang memaparkan sistem pengawasan karantina terintegrasi berbasis UU No. 21 Tahun 2019, guna memastikan introduksi spesies dilakukan secara aman, efektif, dan tidak berpotensi invasif.

    Kegiatan ini menjadi ruang kolaboratif bagi berbagai pihak untuk berbagi pengetahuan, memperluas jejaring, dan menjalin kerja sama di bidang riset serta pengawasan biosekuriti. Dengan peran strategisnya, PT RPN terus berupaya menyinergikan hasil riset dengan kebijakan dan praktik lapangan guna memperkuat daya saing dan keberlanjutan sektor sawit nasional.

    —
    Keterangan Lebih Lanjut:
    Divisi Sekretariat Perusahaan
    PT Riset Perkebunan Nusantara
    Ponsel: 0811-1380-3523
    Email: rpn@rpn.co.id

  • Dari Riset untuk Dunia: PT RPN Bersama Negara Produsen Karet, Dorong Inovasi dan Kesejahteraan Petani

    Palembang, 25 Oktober 2025 – PT Riset Perkebunan Nusantara (PT RPN) melalui Pusat Penelitian Karet menegaskan perannya sebagai motor penggerak riset perkebunan nasional di kancah internasional. Bersama International Rubber Research and Development Board (IRRDB), PT RPN menjadi tuan rumah Workshop IRRDB 2025 di Palembang. Forum internasional ini memperkuat sinergi antarnegara produsen karet dunia dalam mendorong inovasi riset, peningkatan produktivitas, dan kesejahteraan petani.


    Selama tiga hari pelaksanaan, lebih dari seratus peserta dari India, Malaysia, Filipina, Indonesia, dan Thailand membahas solusi komprehensif bagi industri karet alam. Sebanyak 24 makalah ilmiah dipresentasikan, mencakup topik perbaikan tanaman, pengendalian penyakit, hingga strategi pemberdayaan petani.
    Sekretaris Jenderal IRRDB, Dr. Abdul Aziz, S.A., menekankan pentingnya menempatkan petani sebagai pusat perhatian dalam kebijakan industri karet.

    “Petani adalah tulang punggung industri, namun sering kali dikesampingkan dari diskusi kebijakan. Kita perlu kolaborasi yang lebih menyeluruh,” tegasnya.
    Hal senada disampaikan Prof. Dr. Ahmad Ibrahim dari UCSI University, yang menilai bahwa industri karet tengah menghadapi periode tersulit.


    “Kita butuh kerja sama yang lebih kuat, kompensasi yang adil untuk petani, dan riset yang melihat jauh ke depan,” ujarnya.

    Ia juga mendorong negara produsen untuk terlibat dengan International Rubber Study Group (IRSG), agar suara produsen karet semakin terdengar di level global.


    Pakar Ekonomi Association of Natural Rubber Producing Countries (ANRPC), Dr. Lekshmi Nair, menggeser paradigma industri dengan menyoroti pentingnya efisiensi biaya.

    “Jangan hanya mengejar harga tinggi, tapi juga cari cara menurunkan biaya produksi,” ungkapnya.

    Ia menambahkan, penyelarasan strategi industri dengan tujuan net-zero emmission dan peluang kredit karbon akan memperkuat pemberdayaan petani serta ketahanan rantai pasokan global.


    Sementara itu, Prof (Ris). Ir. Didiek Hadjar Goenadi, IRRDB Fellow, mendorong perhatian pemerintah terhadap sektor karet setara dengan komoditas seperti kelapa sawit.


    “Kita butuh inovasi dan nilai tambah. Sektor karet juga penting untuk ekonomi,” tegasnya.

    Workshop ini juga menghasilkan sejumlah inisiatif konkret untuk memperkuat industri karet di masa depan. Kepala Pusat Penelitian Karet PT RPN, Dr. Suroso Rahutomo, mengumumkan rencana peluncuran klon IRRI baru yang toleran terhadap penyakit Pestalotiopsis, sebagai bentuk komitmen Indonesia terhadap keberlanjutan industri. Selain itu, negara-negara anggota IRRDB sepakat melanjutkan Program Pertukaran Klon guna mempercepat pemuliaan tanaman di berbagai wilayah tropis.


    Forum juga menyepakati perlunya kerja sama antarnegara produsen untuk memastikan harga karet yang adil dan berkelanjutan, didukung oleh data biaya produksi yang transparan. Peserta menekankan bahwa pemerintah memiliki peran penting dalam meningkatkan penggunaan karet di dalam negeri, seperti melalui penerapan aspal berkaret dan bantalan seismik, guna memperkuat permintaan domestik dan menjaga stabilitas harga bagi petani.


    “Workshop ini menandai babak baru kolaborasi antara lembaga riset, universitas, dan pelaku industri. Saya optimistis kita dapat membawa industri karet menuju masa depan yang lebih berkelanjutan dan menyejahterakan, terutama bagi para petani,” tutur Abdul Aziz dalam sambutan penutup.

    Kegiatan ini mencerminkan semangat kolaborasi global yang tidak surut oleh tantangan. Dengan energi baru dan tekad bersama, komunitas karet alam berkomitmen untuk membangun masa depan industri yang lebih berkelanjutan, inklusif, dan berpihak pada kesejahteraan banyak pihak.

    —

    Keterangan Lebih Lanjut:
    Divisi Sekretariat Perusahaan
    PT Riset Perkebunan Nusantara
    Ponsel: 0811-1380-3523
    Email: rpn@rpn.co.id

  • Dari Riset ke Aksi: PT RPN melalui P3GI Dukung PT PSMI Kembangkan Sistem Manajemen Kesuburan Tanah untuk Budidaya Tebu Berkelanjutan

    Pasuruan, 13 Oktober 2025 – Sebagai bentuk komitmen terhadap peningkatan kapasitas sumber daya manusia di sektor perkebunan tebu, PT Riset Perkebunan Nusantara melalui Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI) menyelenggarakan kegiatan kolaboratif bersama PT Pemukas Sakti Manis Indah (PSMI) bertajuk “Pelatihan Manajemen Kesuburan Tanah untuk Budidaya Tebu Berkelanjutan”.

    Kegiatan pelatihan yang berlangsung selama tiga hari, mulai tanggal 13 hingga 15 Oktober 2025, diikuti oleh peserta dari berbagai unit operasional PSMI yang terlibat langsung dalam pengelolaan lahan dan budidaya tebu.


    Pelatihan menghadirkan empat narasumber ahli yang memberikan materi komprehensif mencakup manajemen kesuburan tanah terpadu, teknik pengambilan sampel tanah baik secara biologis maupun mekanis, land preparation dan land forming, identifikasi varietas tebu, serta teknik pengambilan sampel tanah yang tepat. Melalui rangkaian materi tersebut, peserta memperoleh pemahaman mendalam mengenai pentingnya pengelolaan tanah yang optimal sebagai fondasi peningkatan produktivitas dan keberlanjutan budidaya tebu.


    Perwakilan P3GI, Imam Kukuh Afrianto, S.T.P., menyampaikan bahwa, “Melalui pelatihan ini kami berharap para peserta tidak hanya memahami aspek teknis pengambilan sampel atau penyiapan lahan, tetapi juga mampu menerjemahkan konsep manajemen kesuburan ke dalam praktik lapangan sehari-hari, sehingga tanah yang dikelola menjadi semakin sehat dan produktif.”

    Pernyataan tersebut menegaskan komitmen P3GI untuk memastikan ilmu yang disampaikan dapat langsung diterapkan oleh praktisi di lapangan.
    Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan pemahaman peserta terhadap pentingnya pengelolaan tanah secara terpadu sebagai dasar dari produktivitas yang berkelanjutan. Melalui sinergi nyata antara institusi riset dan industri, P3GI dan PSMI ingin memperkuat kontribusi mereka terhadap program swasembada gula nasional serta membangun industri gula yang kompetitif dan ramah lingkungan.

    Afrianto, salah satu peserta pelatihan, turut menyampaikan harapannya “Kami berharap pelatihan ini tidak berhenti hanya sebagai kegiatan sekali waktu, melainkan menjadi titik awal dari program-program berkelanjutan yang akan memperluas jangkauan diseminasi ilmu dan memperkuat kapasitas seluruh SDM perkebunan tebu di Indonesia.”


    Kolaborasi antara P3GI dan PSMI menjadi wujud nyata kemitraan antara dunia riset dan praktik industri. Dengan pengelolaan tanah yang lebih baik, diharapkan budidaya tebu dapat berjalan lebih produktif, efisien dalam penggunaan sumber daya, dan ramah terhadap lingkungan. Hasil akhirnya bukan hanya tumbuhnya tebu dengan produktivitas yang lebih tinggi, tetapi juga terciptanya industri gula nasional yang berdaya saing, berkelanjutan, dan memberi manfaat bagi semua pihak berkepentingan.

    —
    Keterangan Lebih Lanjut:
    Divisi Sekretariat Perusahaan & TI
    PT Riset Perkebunan Nusantara
    Ponsel: 0811-1380-3523
    Email: rpn@rpn.co.id

  • PT RPN dan IRRDB Tegaskan Pentingnya Kolaborasi Riset dan Hilirisasi untuk Masa Depan Industri Karet Dunia

    Palembang, 25 Oktober 2025 – Palembang kembali menjadi sorotan dunia industri karet dengan terselenggaranya Workshop International Rubber Research and Development Board (IRRDB) 2025, yang berlangsung pada 20–22 Oktober 2025. Acara yang digelar oleh PT Riset Perkebunan Nusantara (PT RPN) bersama IRRDB ini mempertemukan para peneliti, akademisi, dan pelaku usaha dari berbagai negara produsen karet seperti Malaysia, India, Filipina, Kamboja, dan Indonesia.


    Mengusung tema “Facing Challenges in the Natural Rubber Industry: Combating Diseases and Seizing Opportunities”, forum internasional ini dan berhasil menyepakati pentingnya riset kolaboratif, inovasi teknologi, serta hilirisasi produk untuk memperkuat daya saing industri karet dan kesejahteraan petani.


    Selama tiga hari pelaksanaan, para peserta berdiskusi dan bertukar pengetahuan terkait berbagai topik strategis sektor karet, antara lain pengendalian terpadu terhadap penyakit tanaman karet, pengembangan varietas unggul yang tahan serangan penyakit, penerapan budidaya adaptif berbasis ekonomi sirkular, serta optimalisasi penggunaan bahan organik sebagai pupuk alami.

    Tantangan Industri: Penyakit Daun dan Harga Karet yang Terpuruk
    Ketua Gapkindo Sumatera Selatan, Alex K. Edy, menyoroti kondisi kritis yang tengah dihadapi perkebunan karet di wilayahnya. Ia menyebutkan, banyak petani kini beralih ke komoditas lain seperti sawit, tebu, atau singkong akibat rendahnya harga karet dan ancaman penyakit daun seperti Colletotrichum yang menyerang tanaman.


    “Sejak 2017 produksi karet nasional terus menurun. Dari 3,8 juta ton kini hanya sekitar 2 juta ton pada 2024. Harga jualnya pun masih rendah, di kisaran Rp13 ribu per kilogram, padahal idealnya bisa mencapai dua kali lipat,” ungkap Alex.


    Ia menambahkan, meningkatnya produksi karet sintetis oleh negara seperti Tiongkok turut menekan permintaan terhadap karet alam.

    “Jika tidak ada langkah nyata dalam riset dan inovasi, petani bisa kehilangan motivasi menanam karet,” tegasnya.


    Kolaborasi dan Inovasi Jadi Kunci
    Dalam sambutannya, SEVP Riset, Inovasi & Sustainability PT RPN, Tjahjono Herawan, menegaskan komitmen Indonesia untuk memperkuat kerja sama riset lintas negara dalam menghadapi tantangan industri karet global. Ia menyampaikan bahwa riset kolaboratif menjadi elemen penting untuk mendorong inovasi, efisiensi produksi, dan peningkatan kesejahteraan petani karet.

    Tjahjono menjelaskan, sinergi antarnegara produsen karet dibutuhkan agar hasil penelitian dapat diterapkan secara langsung di lapangan. Kolaborasi riset juga diharapkan mampu menjawab berbagai persoalan utama sektor perkaretan, mulai dari serangan penyakit daun, penurunan produktivitas, hingga tekanan harga akibat persaingan dengan karet sintetis.


    “Industri karet tidak bisa lagi berjalan sendiri-sendiri. Diperlukan kerja sama yang berkelanjutan antara lembaga riset, pemerintah, pelaku usaha, dan petani agar inovasi benar-benar berdampak pada peningkatan daya saing dan keberlanjutan industri,” ujar Tjahjono.


    Komitmen Bersama untuk Aksi Nyata
    Hasil akhir forum ini menegaskan komitmen bersama antara IRRDB dan PT RPN melalui Pusat Penelitian Karet untuk menyusun rencana aksi jangka panjang guna memperkuat ketahanan dan keberlanjutan industri karet alam.


    “Riset, hilirisasi, dan kerja sama lintas negara harus menjadi fondasi utama agar Indonesia, khususnya Sumatera Selatan, tetap menjadi rumah bagi inovasi dan kemajuan industri karet dunia,” tutup Tjahjono.

    Kegiatan ditutup dengan kunjungan lapangan ke Kebun Musilandas PTPN I Regional 7 Banyuasin, di mana peserta dapat melihat langsung praktik pengelolaan perkebunan karet berbasis hasil riset nasional.

    Melalui workshop ini, diharapkan hasil kolaborasi para peneliti dan pemangku kepentingan dapat menghasilkan inovasi nyata yang mampu meningkatkan produktivitas, ketahanan, dan keberlanjutan industri karet di tingkat nasional maupun global. Kegiatan ini juga menjadi momentum penting dalam memperkuat sinergi antarnegara produsen karet untuk menghadapi tantangan industri di masa depan dengan solusi riset yang berkelanjutan.

    Keterangan Lebih Lanjut:
    Divisi Sekretariat Perusahaan
    PT Riset Perkebunan Nusantara
    Ponsel: 0811-1380-3523
    Email: rpn@rpn.co.id

  • Tingkatkan Produktivitas Sawit : PT RPN, BPDPKS, dan Ditjenbun Latih 99 Pekebun Labusel

    Medan, 22 September 2025 – Sebanyak 99 pekebun kelapa sawit asal Kabupaten Labuhanbatu Selatan (Labusel), Sumatera Utara, mengikuti pelatihan teknis budidaya kelapa sawit yang diselenggarakan oleh PT Riset Perkebunan Nusantara (RPN) bekerja sama dengan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) dan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun), Kementerian Pertanian. Kegiatan berlangsung selama lima hari, mulai 22 hingga 26 September 2025, di Medan.


    Pelatihan ini bertujuan meningkatkan kapasitas dan keterampilan teknis para pekebun sawit agar mampu mengelola kebun secara produktif, efisien, dan berkelanjutan. Dalam pelaksanaannya, PT RPN menghadirkan narasumber dari Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS), yang memiliki kompetensi dan pengalaman mendalam di bidang budidaya sawit.
    Dalam sambutannya, Winarna, Kepala PPKS PT RPN, menegaskan bahwa pelatihan ini merupakan kesempatan berharga bagi para pekebun yang telah terpilih melalui proses seleksi.


    “Kesempatan ini tidak datang dua kali. Peserta harus memaksimalkan pelatihan untuk menggali informasi dan keterampilan teknis. Setelah pelatihan, saya berharap komunikasi tetap terjalin karena tantangan budidaya sawit terus berkembang, dari hulu sampai hilir.”

    Ia juga menyoroti pentingnya kolaborasi pasca-pelatihan antar peserta dan narasumber untuk memecahkan berbagai persoalan teknis di lapangan.
    Sementara itu, Baginda Siagian, Direktur Tanaman Kelapa Sawit dan Aneka Palma Ditjenbun, mengungkapkan bahwa produktivitas kebun sawit pekebun saat ini masih jauh dari potensi maksimalnya.


    “Produktivitas pekebun masih di kisaran 3,3 sampai 3,5 ton CPO per hektar per tahun, padahal potensinya bisa mencapai 5 sampai 6 ton. Melalui pelatihan ini, kami ingin mempercepat perbaikan di lapangan, demi kesejahteraan pekebun dan peningkatan daya saing sawit nasional.”


    Ia menambahkan, dari total 16,8 juta hektar lahan sawit di Indonesia, sekitar 42 persen atau sekitar 6 juta hektar dikelola oleh pekebun rakyat. Oleh karena itu, peningkatan kapasitas sumber daya manusia di tingkat pekebun menjadi langkah strategis dalam memperkuat keberlanjutan sektor sawit nasional.

    Dari sisi daerah, Sabrina Pulungan, Kepala Bidang Perkebunan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Labusel, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini yang menyasar langsung pekebun asal Labusel.


    “Pelatihan ini sangat penting untuk meningkatkan wawasan dan keterampilan pekebun. Saya harap para peserta aktif bertanya dan berdiskusi dengan narasumber. Ilmu yang diperoleh harus bisa langsung diterapkan dan dibagikan kepada pekebun lainnya.”


    Sabrina juga menekankan bahwa sektor sawit memiliki peran strategis sebagai penggerak ekonomi daerah, penyerapan tenaga kerja dan sumber devisa negara. Namun, berbagai tantangan seperti isu keberlanjutan dan produktivitas rendah harus dijawab dengan peningkatan kapasitas pekebun dan penerapan praktik budidaya yang baik.

    Pelatihan ini diharapkan dapat menjadi langkah konkret dalam membangun sawit rakyat yang tangguh, berdaya saing, dan berkelanjutan di tengah tantangan global dan dinamika industri sawit yang terus berkembang.

    Keterangan Lebih Lanjut:
    Divisi Sekretariat Perusahaan & TI
    PT Riset Perkebunan Nusantara
    Ponsel: 0811-1380-3523
    Email: rpn@rpn.co.id

  • Dukung Swasembada Gula : PT RPN melalui P3GI dan PT SGN Luncurkan Inovasi Pengendalian Hama Uret

    Kediri, 1 Oktober 2025 –PT Riset Perkebunan Nusantara (RPN) melalui Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI) bersama PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) menggelar Sosialisasi Hasil Demoplot Pengendalian Hama Terpadu (PHT) Uret di Kediri, Jawa Timur, pada 1 Oktober 2025. Inisiatif ini merupakan implementasi bagian dari program Riset Unggulan yang didanai oleh PTPN Group Tahun Anggaran 2024/2025, sebagai langkah strategis menghadapi ancaman hama uret yang menurunkan produktivitas tebu di Indonesia.


    Kegiatan sosialisasi dilaksanakan secara hybrid dengan mengundang Kepala Divisi Penelitian dan Pengembangan PT SGN, Kepala Bagian Operasional, seluruh General Manajer, Manajer dan Asisten Manajer lingkup satuan kerja/kebun KSO PT SGN, praktisi perkebunan gula, serta peneliti lingkup PT RPN. Susunan acara kegiatan tersebut adalah sambutan dari Kepala P3GI, Pembukaan oleh SEVP Operasional MKSO PT SGN yang diwakilkan oleh General Manager Puslit Tebu PT SGN Ibu Lovinna Magda Hasibuan, penyampaian materi oleh Ibu Etik Mar’ati Achadian, S.Si, M.P, diskusi serta praktik aplikasi insektisida di lapang.


    Dalam pembukaannya Ibu Lovvina menyampaikan bahwa hama uret merupakan ancaman serius untuk produktivitas dan kualitas tebu, oleh karena itu penting bagi kita untuk mengetahui strategi pengendalian yang efektif dan ramah lingkungan. Melalui kegiatan ini kita berharap dapat berbagi pengetahuan dan pengalaman dalam pengendalian hama uret sehingga dapat meningkatkan hasil panen dan mendukung ketersediaan gula nasional. Apresiasi kepada semua pihak yang telah bekerjasama dengan baik sehingga penelitian dapat berjalan dengan lancar hingga terlaksananya kegiatan sosialisasi ini.


    Pada sesi pemaparan materi ibu Etik Mar’ati Achadian selaku narasumber menyampaikan mengenai hasil pengamatan serangan hama uret di lokasi percobaan, biologi hama uret dan strategi pengendalian hama terpadu sesuai dengan status tingkat serangannya. Kunci utama dalam penerapan Pengendaliah Hama Terpadu (PHT) untuk hama uret adalah adanya peta intensitas serangan hama serta observasi menyeluruh terhadap situasi dan kondisi kebun untuk menunjang efektivitas pengendalian. Di akhir paparanya ibu Etik menyampaikan bahwa strategi pengendalian harus disusun sebelum hama menyerang.


    Program riset unggulan yang didanai PTPN Group ini merupakan manifestasi komitmen korporasi dalam memperkuat sektor pergulaan nasional melalui inovasi berbasis riset. Sinergi antara P3GI dan PT SGN menunjukkan kolaborasi produktif antara institusi penelitian dan industri, yang memastikan hasil riset tidak hanya berhenti pada tataran akademis, melainkan diimplementasikan secara aplikatif di lapangan.

    Kegiatan ini mendapat sambutan positif dari para peserta yang menilai pendekatan holistik PHT dapat menjadi solusi berkelanjutan untuk mendukung swasembada gula nasional. Ke depan, kedua institusi berkomitmen untuk terus mengembangkan riset strategis yang berorientasi pada keberlanjutan dan peningkatan produktivitas perkebunan tebu di Indonesia.

    Keterangan Lebih Lanjut:
    Divisi Sekretariat Perusahaan & TI
    PT Riset Perkebunan Nusantara
    Ponsel: 0811-1380-3523
    Email: rpn@rpn.co.id